Setelah Hasan Tiro Pergi

Juni 7, 2010 at 6:50 am (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)


Teuku Kemal Fasya

Hanya sehari setelah mendapatkan sertifikat WNI, yang diantarkan langsung Menko Polhukam, Djoko Suyanto, Hasan Muhammad Di Tiro meninggal dunia pada Kamis, 3 Juni 2010 pukul 12.15 WIB.

Sulaman takdir seperti menunggu jahitan terakhirnya, keluarnya surat resmi sebagai WNI, seperti memudahkan deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu untuk dikebumikan di bumi Aceh. Ia dimakamkan di samping makam kakeknya, Tgk Chik Di Tiro di Desa Meureu, Indrapuri, Aceh Besar. Kepergiannya disaksikan sahabat perjuangan, Malik Mahmud dan Zaini Abdullah (kakak ketua DPR Aceh, Hasbi Abdullah).

Anak semata wayang, Karim, buah pernikahannya dengan Dora, perempuan Amerika Serikat, tidak hadir. Alasannya ia tidak dapat meninggalkan ibunya yang juga telah renta. Tapi di balik itu, Karim, yang juga asisten profesor sejarah di Xavier Cincinnati, Ohio, tidak siap jika ditahbiskan sebagai pelanjut sah perjuangan, termasuk menjadi Wali Nanggroe pertama Aceh.

Tokoh Tiga Generasi
Dalam satu abad terakhir, hanya ada dua tokoh di Aceh yang begitu populer: Hasan Tiro dan Tgk Muhammad Daud Beureueh. Daud Beureueh adalah tokoh yang memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) di Aceh pada 21 September 1953. Ia mengangkat Hasan Tiro muda sebagai diplomat untuk kampanye internasional sekaligus penghubung untuk memasok senjata.

Sepucuk surat yang dikirimkan Hasan Tiro kepada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pada 1 Maret 1954 membuat mantan gubernur militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo itu bangga bukan kepalang.
Sampai hari ini, sudah lebih setahun lamanya Tuan memegang kendali pemerintahan atas tanah air dan bangsa kita. Tuan tidak mempergunakan kekuasaan yang telah diletakkan di tangan Tuan itu untuk membawa kemakmuran, ketertiban, keamanan, keadilan, dan persatuan di kalangan bangsa Indonesia, malah menyeret kepada keruntuhan ekonomipolitik, kemelaratan, perpecahan, dan perang saudara” .

Dalam surat itu Hasan Tiro juga membuat ultimatum agar pemerintahan Ali Sastroamidjojo menghentikan agresi militer ke basis-basis DI/TII dan membuka perundingan dengan Daud Beureueh, SM Kartosoewirjo, Abdul Kahar Muzakar, dan Ibnu Hajar (Cornelis Van Djick, 1983).

Namun perjuangan DI/TII tak berumur panjang. Lemahnya logistik perang, tekanan militer Indonesia, dan ditangkapnya Kartosoewirjo menyebabkan beberapa elite pemberontak Aceh mengambil jalan damai dengan pemerintah Indonesia.

Ikrar Lam Teuh (April 1957) menjadi kesepakatan damai pertama dalam sejarah Aceh, tidak dihadiri oleh Daud Beureueh, hanya diwakili Hasan Ali (perdana menteri DI/TII) dan Hasan Saleh (panglima DI/ TII). Konon Tgk Beureueh murka dengan sikap pragmatis rekan-rekannya. Ketika akhirnya melunak dan mau turun gunung pada 8 Mei 1962, semata dilakukannya karena ada janji syariat Islam di belakang.

Di masa Soeharto, pada 70-an ketika ditemukan ladang gas cukup besar di Arun, Aceh Utara, Hasan Tiro mendeklarasikan kembali pemberontakan dengan semangat etnonasionalisme dan bukan agama (4 Desember 1976). Saat itu Abu Beureueh tidak ikut-ikutan menghujatnya, seperti dilakukan Hasan Saleh, Husin Al-Mudjahid, dan tokohtokoh mantan DI/TII lainnya. Diam-diam ia merestui pemberontakan Hasan Tiro (Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik, 1990).

Ketika Soeharto jatuh pada 1998, pengaruh tokoh eksil dan tinggal di Norsborg, Stockholm, Swedia, ini tetap besar. GAM jilid kedua digerakkan oleh panglima militer binaan Libia, seperti Abdullah Syafi ’i , Ishak Daud, dan Muzakkir Manaf, tapi tak mengurangi ketakziman kepadanya. Pasukan lapangan membenarkan semua keputusan Swedia , termasuk jika pun harus mengakui NKRI, seperti kesepakatan Helsinki. Yang berdiplomasi dalam pertemuan Helsinki adalah Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Bahtiar Abdullah, Nurdin AR, dan Nur Djuli, namun restu sang wali amat dinanti.

Wali Nanggroe
Struktur Wali Nanggroe adalah imbuhan baru dalam sistem pemerintahan Aceh, buah perjanjian Helsinki. Konsep ini tidak dikenal dalam sejarah Aceh, pun kata Nanggroe dalam sistem kerajaan Aceh abad lalu adalah setingkat kabupaten/kota, berlawanan dengan gelora GAM agar Aceh menjadi negara.

Wali Nanggroe dipersiapkan sebagai struktur simbolis, layaknya kuasa citra para Mullah di Iran atau Raja Bumibhol Adulyadey di Thailand. Simbolisme Wali Nanggroe diharap menjadi perukun, jika ada selisih antara, misal gubernur dan ketua DPRD, atau masyarakat pesisir timur dan barat. Struktur ini sesungguhnya dipersiapkan untuk Hasan Tiro.

Apatah daya, hingga ia meninggal, DPR Aceh tak jua mampu merumuskan qanun Wali Nanggroe yang tepat, kecuali tafsir gelar adat biasa. Atau kita tinggalkan dulu debat terminologis Wali Nanggroe yang masih ambigu itu.

Yang penting ditunggu, siapa yang akan menjadi suksesornya, dan memegang kendali atas seluruh perjuangan panjang ini, yang kini telah bertransformasi ke dalam Partai Aceh. Karim jelas tidak mungkin karena ia bukan sosok populer di Aceh. Malik Mahmud? Zaini Abdullah? Irwandi? Muzakkir Manaf? Siapa pun yang tersebut, tidak ada tokoh yang memiliki daya terima sebulat Hasan Tiro.

Konsolidasi eks GAM di masa akan datang adalah pokok bahasan di samping melanjutkan perdamaian dengan visi yang terukur dan kreatif, sehingga perang tak perlu menjadi tumbal lagi di Aceh. Akhirnya, Hasan Tiro pergi meninggalkan dunia sebagai WNI, meski hanya 26 jam.

Pemberian status ini menjadi pelopor rekonsiliasi dari Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono yang tepat waktunya. Inisiatif ini semoga tidak berhenti dan dapat dilanjutkan kepada tokoh-tokoh GAM lainnya, termasuk tokoh OPM dan RMS, agar wajah Indonesia kita kembali bersinar sempurna.

Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi asal Aceh.
Dimuat di Koran Jakarta, 7 Juni 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: