Kecerdasan Sosial

Juni 15, 2009 at 3:52 am (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

100_3413
Teuku Kemal Fasya

Kisah Riana yang saya ceritakan ini tentu menyenangkan bagi sebagian besar orang tua Indonesia. Seorang anak yang belum genap 18 tahun berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Kedokteran UGM dengan IPK cum laude.

Dengan usia yang sebenarnya baru pantas untuk masuk dunia perkuliahan, Riana, kelahiran Banda Aceh, 22 Maret 1991 ini telah menyelesaikan salah satu cabang pendidikan yang cukup sulit bagi sebagian besar anak-anak Indonesia. Umur tiga tahun ia telah bisa membaca dan sejak kecil tidak suka bermain boneka. “Jika diberikan boneka, ia akan menjerit”, kata ayahnya.

Kisah seperti ini tidak tunggal meskipun juga tidak jamak. Anak-anak yang memiliki kecerdasan numerik-mathetik-statistik sering dimasukkan ke dalam program akselerasi, yaitu program lompat kelas. Dengan program ini anak-anak tidak perlu mengikuti beberapa level dari strata pendidikannya dan ia duduk bersama kakak-kakak kelasnya.

Tapi ada juga kisah dari Malaysia. Seorang gadis cerdas bernama Shafia memiliki cerita hampir sama seperti Riani. Belum berumur 20 tahun ia telah menyelesaikan program master. Ia juga mengikuti program akselerasi. Shafia, disamping cantik juga seorang jenius. Umur empat tahun ia telah bisa menamatkan aneka problem-problem matematik yang hanya bisa diselesaikan anak-anak seumuran SMP. Dengan cepat, perguruan tinggi terkemuka di Inggris menerimanya untuk mengikuti program doktor. Kisahnya memang berakhir tragis, ia menjadi seorang pelacur kelas atas. Ibunya mengatakan bahwa ia bangga dengan anak-anaknya yang lain, kecuali Shafia. “Karena Shafia hanya cerdas, tapi tak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk”.

Pertanyaannya, akan seperti apakah nasib Riani dua-lima tahun ke depan? Apakah ia akan menjadi seperti Michael Foucault, seorang jenius dari Perancis (yang juga berangkat dari disiplin kedokteran) dan akhirnya mati sebagai penderita AIDS. Sebagai pemikir, Foucault adalah seorang perintis pemikiran post-modernisme yang cukup diakui dunia, tapi kehidupan pribadinya kacau-balau. Ia seorang homoseksual dan senang mengajar di Amerika Serikat karena lebih bebas mendapatkan ganja dibandingkan di Perancis. Atau Riani akan meneruskan jejak kefilsafatan profan ala Stephen Hawking, seorang fisikawan yang dianggap sebagai manusia terbaik setelah tiga ratus tahun Galileo dan Newton. Hawking tidak sempat mengikuti keliaran ala Foucault karena di umur yang sangat muda ia lumpuh. Seluruh pikirannya kemudian diterjemahkan oleh komputer, sehingga orang tetap bisa melihat kehebatan pemikirannya walaupun dis-motorik dan tidak bisa berbicara.

Era modern memang menginginkan perubahan yang serba cepat dan dinamis. Pemikiran cepat berubah, menuntut seseorang untuk juga cepat mengetahui. Situasi ini memungkinkan seseorang bisa menempuh level doktoral secara cepat melalui sistem skolastika. Sistem ini memungkinkan seseorang berada di ruang pendidikan “melampaui” umurnya. Namun banyak orang yang abai bahwa pendidikan itu sebenarnya bukan hanya mengejar intelejensia, kecerdasan kognitif semata. Pendidikan pada dasarnya membimbing seseorang untuk masuk ke dunia nyata, mengenal sosialnya secara lebih real. Jika mengambil konsep Freud, pendidikan adalah proses menemukan pribadi dalam waktu, dari titik Id yang infantilis (kekanak-kanakan) ke level Super Ego yang real (dewasa). Tujuannya agar seseorang tidak lagi kabur memahami dirinya dan berhubungan dengan dunia luar. Makanya pendidikan doktoral sebenarnya bukan ditujukan untuk hanya menemukan dan merancang teori-teori baru, tapi bagaimana teori itu mempribadi, sehingga ia makin dewasa dan bijaksana (sophia).

Hal ini yang akhirnya harus direnungkan kembali, bahwa pendidikan adalah proses pendewasaan. Dalam bahasa agama sebenarnya berilmu adalah urusan untuk menuju al-haq (ontologis), bukan hanya muta’arif (epistimologis).

Para guru dan sistem modern lupa bahwa dalam pendidikan sangat terkait dengan psikologi. Psikologi menempatkan peran penting dalam pembentukan pengetahuan seseorang. Tujuan pendidikan sebenarnya mengarahkan seseorang pada kemapanan psikologis secara benar dan kuat. Semakin naik level pendidikannya, maka semakin kuat psikologis sang anak didik. Kita bisa bandingkan dengan sistem pendidikan Indonesia di masa kolonial, di mana pada level SMP, seorang siswa bukan hanya “pintar”, namun juga dewasa. Di level SMA ia sudah bisa menjadi pemimpin masyarakat. Bandingkan dengan anak-anak sekarang yang setamat kuliah masih gagap bersosialisasi di masyarakat dan sangat kolokan.

Saya tidak terpukau dengan sistem pendidikan yang hanya mengejar target secepat-cepatnya seperti terlihat di atas. Bukan saja pendidikan itu meninggalkan ruang Verwefung – memakai konsep Freud –yaitu sisi kehilangan (loss), kekurangan (lackness), dan ketidak-hadiran (manque) pada diri siswa, namun lebih jauh bisa menyebabkan ia kehilangan pusat dalam berpijak seperti kasus Shafia di atas.

Bagi saya, para guru tidak perlu membuat pembedaan kepada murid sejak level dasar. Biarkan sang anak cerdas bergaul dengan sesamanya dan tidak perlu diisolasi dengan kelas tersendiri. Situasi ini bisa membangun perasaan bahwa dia alien, makhluk asing yang berbeda dengan teman-temannya. Di Jerman, anak-anak seumur 6-7 tahun belum bisa membaca bukan sebuah keanehan, karena sang anak memang tidak dituntut bisa membaca secepat-cepatnya. Anak seumuran sekolah dasar dibebaskan untuk berfikir seriang-riangnya, mengutak-atik roda sepeda dan memasang baterai ke dalam senter atau menyusun piramida.

Bayangkan dalam pendidikan kita yang suka melecehkan anak yang belum bisa membaca padahal ia memiliki potensi lain yang tidak dihiraukan oleh orang dewasa. Thomas Alva Edison pernah hampir ditendang oleh gurunya dari sekolah karena perkembangannya sangat lambat dalam membaca. Namun dialah yang dikenal sejarah sebagai penemu 1.093 hal-hal yang terkait dengan elektronik, termasuk bola lampu dan kamera film.

Saya lebih terenyuh dengan orang tua yang masih giat belajar dibandingkan belia yang sibuk mengejar doktor, tapi tidak pernah bergaul, mengadvokasi kelompok lemah, atau bekerja bersama masyarakat. Saya merasa bangga menonton tayangan Kick Andy yang memperlihatkan seorang ibu berumur 60 tahun mencoba menyelesaikan S1-nya. Di masa mudanya ia tidak memiliki kesempatan karena harus mengurus suami dan membesarkan anak-anak. Bahkan ada nenek yang telah berumur 72 tahun baru akan menyelesaikan program doktor. Ini lebih dahsyat dibandingkan anak ingusan menggapai doktor.

Kehidupan anak yang terkurung dengan buku dan sekolah besar kemungkinan menjadikannya seorang egois, fetisis, dan bukan humanis. Antonio Gramsci, filsuf dari Italia, membenci intelektual yang demikian, intelektual mekanis, yang hanya menghamba dirinya bagi pengetahuan, tidak bagi kemanusiaan. Di era sekarang intelektual model begini dikenal sebagai agen neo-liberalisme yang menyengsarakan. Ia hidup mewah di tengah bayaran besar mesin-mesin pencetak uang dan abai atas penderitaan sebagian besar manusia akibat ketidak-adilan ekonomi yang berjalan.

Teuku Kemal Fasya, dosen Antropologi Universitas Malikussaleh.
Tulisan ini dimuat di Harian Aceh, 24 Mei 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: