Pikiranmu, Kebudayaanmu

Mei 24, 2009 at 1:51 pm (kumpulan artikel, Ling to Link, Teuku Kemal Corner)

100_3294
Teuku Kemal Fasya

Ketika saya kembali mengunjungi Yogyakarta, kota yang telah menjadi bagian dari sejarah hidup, selalu saja ada sisi asketisme dan auratik yang menggumpal-ngumpal. Ia seperti bergelayut dan menarik ingatan, ketika saya menempuh pendidikan dan berkembang menjadi manusia dewasa.

Tak ada yang seperti Yogyakarta! Seperti lagu KLA Project, “Pulang ke kotamu, ada setangkup harum dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahaja, penuh selaksa makna”.

Dari Kuala Lumpur ke Jogjakarta (sebutan ini lebih populer meski tidak resmi digunakan dalam administrasi pemerintahan) saya menempuh perjalanan hampir tiga jam non-stop. Dengan menumpang Air Asia, “lowest cost carrier air-transportation” saya memanfaatkan waktu libur sempit hanya dengan biaya 294 RM (kurang dari satu juta rupiah) pulang-pergi.

Setiba di Bandara Adi Sucipto, keramah-tamahan Jogjo masih kental terasa, tidak luntur oleh globalisasi sejak lima tahun belakangan ini. Ketika mengantri di bagian imigrasi, seorang pegawai mengumumkan kepada penumpang yang ketinggalan barang. Ia langsung memberikan barang itu pada seseorang penumpang yang mengaku miliknya dengan senyum tanpa imbal. Ia tak perlu menginterogasi penumpang itu dengan pertanyaan-pertanyaan validasi yang bertele-tele. Berbeda dengan pengalaman saya ketika berlepas dari Kuala Lumpur. Seorang petugas imigrasi di sana memasang mata tak bersahabat kepada seorang perempuan pekerja yang akan berangkat ke Yogyakarta dengan pertanyaan-pertanyaan intimidatif : “Kamu mau pulang cuti ?”. Seakan-akan mengatakan, “kamu tak perlu kembali ke sini. Tak masalah bagi kami. Kami tak sangat memerlukanmu!”

Keluar dari bandara, saya memilih menumpang Trans-Jogja. Ia seperti Trans-Jakarta atau Rapid KL di Kuala Lumpur, sebuah moda transportasi interkoneksi yang bisa menghubungkan seluruh wilayah Yogyakarta hanya dengan membayar Rp. 3000. Dengan bus ber-AC itu kita tak perlu membayar lagi jika harus melakukan perpindahan antar-bus menuju tujuan lain.

Malam pertama menginjakkan kaki di kota gudeg ini saya memilih everlasting menu: Kari Kambing Bang Udin. Satu bungkus kari kambing hanya Rp 9000, bisa dimakan berdua atau bertiga. Saya membeli dua bungkus ditambah sup khas Tanah Abang yang telah diolah dengan pendekatan Aceh. Bang Udin adalah cerita sukses mantan pelajar Aceh di Yogyakarta. Kebolehannnya memasak memungkinkan pemuda Beureunun ini merdeka memilih pekerjaannya tanpa tergantung impian menjadi PNS, seperti sarjana pada umumnya.

Yogyakarta memang surga makanan murah dan lezat. Aneka pilihan dengan sentuhan multi-etnik ada di kota ini. Mungkin bolehlah disamakan dengan Penang yang meriah dengan kuliner. Ada gudeg yang telah menjadi trade mark makanan khas kota budaya ; makanan berbahan dasar nangka muda dan olahan ayam. Yang paling terkenal adalah Gudeg Yu Djum. Di jalan Wijilan, di samping alun-alun utara Yogyakarta tersedia aneka gudeg, dari manis legit hingga gurih bergula rendah. Tak ketinggalan Ayam Goreng Nyonya Suharti dan Mbok Berek yang jauh lebih lezat dibandingkan KFC dan Mc Donald. Tentu karena ia lebih berperspektif lokal, sehat, dan jauh dari bujuk-rayu konsumtif global. Ayamnya dibakar, tidak digoreng dengan minyak lemak trans yang memacu berkembangnya kolesterol jahat (LDL).

Keesokan harinya saya melakukan napak-tilas romantik akademik, terutama di daerah Blimbing Sari dan Gejayan. Ternyata di Blimbingsari telah berdiri sebuah gerai makan, Pondok Cabe yang menyediakan aneka menu, dari sate sampe soto, dari tahu-tempe goreng sampai bacem, ikan dan daging goreng dan gulai, pepes, aneka sambal, dan tak terlupa, nasi bakar! Nasi liwet yang dibakar dengan api sedang itu ternyata mengeluarkan aroma baru akibat daun pisang yang tersentuh api. Harum dan menggoda perut. Bondan Winanrno pernah mabuk kepayang dengan makanan disini. Semua item dipersiapkan dalam format mungil, sehingga murah-meriah, sehingga memiliki kesempatan untuk memilih tiga hingga lima lauk sekaligus.

Aneka mall memang ikut menggoda Yogyakarta, tapi tak kehilangan kesejatiannya. Mall dan aneka bisnis kecil berkembang bak cendawan di musim hujan, namun tidak menggeser masyarakat Yogyakarta menjadi materialis. Mereka tetap pribadi yang nrimo (ikhlas), tidak ngoyo (ambisius), njawani (equilibrium), dan tentu saja bahagia. Mereka menjadi masyarakat berbudaya, merayakan perbedaan kebudayaan dengan sederhana tanpa melupakan hari ini dan esok. Itu pula yang membuat saya takjub dengan pribadi seperti Dr. Harry Susanto SJ yang saya temui di sekitar kampus Sanata Dharma, yang masih riang gembira menggunakan sepeda mengajar ke kampus, seperti tahun-tahun ketika saya menjadi mahasiswanya. Pernah suatu hari dia tiba di kampus dengan peluh mejalar tubuh, karena telah berjalan terlalu jauh dari satu sudut kota ke kampus. Namun ia tak pernah merasa rendah diri, tetap rileks mengajar.

Sketsa ini mendedahkan pertanyaan bagi Aceh hari ini, setelah pelbagai proyek pembangunan termasuk museum tsunami dan gedung kebudayaan, apakah Aceh telah berkembang kebudayaannya secara kreatif dan dinamis? Ternyata tidak. Para penggiat pembangunan dan rekonstruksi memang melakukan proyek kebudayaan, tapi hanya berhenti pada pembangunan fisik, tanpa pikiran dan spirit kultural. Padahal kebudayaan lebih bersisi mental dan pikiran. Uang dan materi hanya melengkapi agar kekuatan mental bisa berkembang alamiah, tapi secara hati-hati agar tidak terjerembab pada hedonisme dan materialisme.

Mungkin patut diikrarkan sumpah kebudayaan Aceh baru, yaitu sumpah untuk mengembangkan cara berfikir, merasa, dan meyakini sesuatu secara ramah, sederhana, berkonstruksi komunitarianisme, kental elemen idealis, namun visioner menatap perubahan tanpa melupakan sejarah dan identitas. Aceh perlu gerakan kebudayaan untuk membersihkan sisa racun rekonstruksi dan perdamaian yang berperspektif global.

Teuku Kemal Fasya, Antropolog Aceh.

Dimuat di Harian Aceh, 17 Mei 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: