Kode Kultural

Mei 16, 2009 at 2:07 pm (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

melotot
Teuku Kemal Fasya

Awalnya, ketika menonton film Marley and Me saya mengalami “kaget budaya”. Film yang diadaptasi dari memoar seorang jurnalis New York Times, John Grogan, ini adalah pengalamannya hidup bersama Labrador, seekor anjing ukuran besar.

Dari sisi sinematografis film ini menarik. Dibintangi aktor drama komedi terkenal, Owen Wilson (Shanghai Noon, I Spy) dan Jennifer Aniston (Bruce Almighty, Along Came Polly) film ini menjadi drama keluarga yang menghibur.

Kisah dibuka oleh cerita pasca-pernikahan John (Owen Wilson) dan Jenny (Jennifer Aniston) pada malam penuh salju di kota Michigan. Sepasang jurnalis itu berikrar memulai hidup baru di daerah yang lebih tropis, West Palm Beach, Florida. Di kota itulah John menghadiahi istrinya seekor anak anjing sebagai teman agar tak kesepian jika ia bekerja.

Ternyata anak anjing itu tumbuh menjadi binatang yang susah diatur dan neurotik; melolong ketakutan ketika petir, mengigit perabotan rumah, minum air toilet, memakan bantal dan bunga, menyerang pendidik anjing, mengejar tukang pos, dll.

Marley, nama anjing itu – diambil dari nama penyanyi reggae Bob Marley – tetap dianggap tuah bagi keluarga Grogan. John yang awalnya hanya wartawan straight news, mulai menuliskan pengalamannya bersama “anjing terburuk di dunia” itu di korannya. Pemimpin redaksi dan masyarakat senang dengan kisah kebengalan si anjing. Ia mulai dipercayai menulis feature secara rutin. Anjing buruk itu menjadi sejarah yang tumbuh bersama anak-anak mereka yang juga mencintainya.

Perbedaan Kode Kultural
Keluarga India dan sepasang bule yang duduk di samping saya saat menonton film itu kerap memberikan respons simpatik ketika melihat adegan dramatis antara Marley dan keluarga itu. Puncak melakolinisme film adalah ketika Labrador itu mati karena tua.

Sejak awal saya mulai tak berselera dengan babak dramatis film ini. Pengalaman visual saya terganggu ketika melihat anjing tidur di kamar keluarga, menjilat tuannya hingga liurnya membasahi wajah, Jenny mencium dan memeluk Marley, dan memakan sisa makanannya. Momen “paling negatif” adalah ketika Marley memakan kalung emas John yang akan diberikan kepada istrinya. Ia terpaksa menunggu sang anjing buang kotoran dan membersihkannya dari kalung itu.

Tapi saya pikir, ini adalah realitas Barat (Eropa dan Amerika) yang pasti akan saya alami jika nanti berangkat ke Jerman untuk program doktor. Amerika dan Eropa memiliki budaya yang sama terhadap anjing. Mereka memelihara anjing di rumah, memandikan dan makan dengan piring yang sama dengan yang dipakai keluarga. Kalau saya menjadi Au-paar Madchen (pekerja rumahan paruh waktu), tuan rumah pasti tersinggung kalau saya risih pada salah satu penghuni rumah mereka. Seorang muslim seperti saya, terjilat oleh anjing harus disamak tujuh kali dengan air dan tanah.

Tapi itulah kode kultural sebuah masyarakat. Setiap komunitas, masyarakat, etnis, bangsa, atau ras memiliki rantai kode kultural yang terpintal dan mengikat. Itu menjadi aturan hidup, etika, kesopan-santunan, dsb. Setiap masyarakat dan etnis memiliki rantai kode yang berbeda bahkan bertolak belakang. Agama termasuk produsen kode kultural terbanyak.

Kode-kode kultural sebenarnya menjadi wujud konstruksi antropologis bahwa kehidupan manusia itu sungguh kompleks. Tidak ada konsep esensialisme yang boleh menyimpulkan “pada dasarnya manusia” harus begini-begitu. Manusia tersekat pada kotak etnografisnya dan itu pasti berbeda dengan kotak etnografis lainnya.

“Rasa jijik” saya terhadap babi sama seperti rasa jijik masyarakat Amerika terhadap usus dan babat sapi. Padahal di restoran Minang, rendang usus dan gulai babat onde-mande sadapnyo. Masyarakat Tomohon, Sulawesi Utara menggemari gulai paniki (kelelawar) dan tikus goreng, sama seperti kegemaran masyarakat Vietnam.

Masyarakat Aceh seperti Laos, mengharamkan sepatu masuk rumah. Adapun di Jakarta atau Eropa tak mungkin tidak memakai alas kaki di rumah. Sebagian perempuan pedalaman Thailand, Jepang, dan Korea Selatan memiliki cara unik mempercantik diri dengan menghitamkan gigi. Komunitas muslim dan Yahudi menyunat anak laki-lakinya. Laki-laki Singh memakai talbal menutup kepala dan tidak memotong rambut dan jenggotnya, sedangkan biksu Budha mencukur habis rambut dan merajah tubuhnya. Tato di komunitas muslim dianggap simbol kejahatan sedangkan komunitas lain menganggap ritual.

Verstehen
Tak ada cara untuk bisa menembus jutaan kode kultural kecuali dengan verstehen; memahami dan menafsirkan ulang setiap kebudayaan yang tercerap. Kata ini memiliki peran penting dalam kajian filsafat kemanusiaan, terutama di Jerman. Seperti diutarakan Wilhelm Dilthey, ketika masuk dalam ruang antropologis berbeda, sangat dibutuhkan sikap partisipasi dan terjun bebas untuk memahami sejarah, kode budaya dan masyarakat itu. Setiap orang adalah pemilik nomor satu hanya bagi identitasnya dan gagal dalam memahami identitas orang lain. Hanya pengalaman terlibat dalam konteks, aktivitas, dan bahasa orang lainlah kita dapat “jatuh untuk melihat” (fall-in see/ver-stehen).

Kita tidak hidup di dunia ontologis yang boleh mengosongkan peran orang lain. Kita dikutuk di dunia kehidupan (lebenswelt), yang pragmatis, saling bertemu dan bersinggungan. Pertemuan itu harus membangkitkan kesadaran emansipasi dan pluralisme meski tak harus menyetujui.

Atas dasar itu tak perlu ada stereotipe Islam teroris, Barat iblis, Yahudi penghianat, Tamil penipu, China pelit, dll, karena itu wujud kabur memahami potret budaya lain dan merusak toleransi. Inilah resep mengurangi kedengkian dan peperangan.

Teuku Kemal Fasya, Ketua Komunitas Peradaban Aceh.
Dimuat di Harian Aceh, 10 Mei 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: