Partai Aceh, Partainya Aceh

April 25, 2009 at 6:10 am (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

kroping
Teuku Kemal Fasya

Kata-kata ini saya dapat dari seorang teman ,”kalau Partai Demokrat perlu dua pemilu untuk meraih 20 persen suara, Partai Aceh hanya perlu satu pemilu untuk menguasai 50 persen suara”.

Wunderbar, luar biasa! Itulah kata yang tepat untuk mengambarkan kemenangan Partai Aceh (PA), salah satu partai lokal (parlok) yang ikut pemilu bersama 43 partai lainnya di Aceh.

Penghitungan sementara di Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh menempatkan PA pada urutan pertama (44,6 persen suara), jauh melampaui partai lainnya seperti PD (12,6 persen), Golkar (4,6 persen), PKS (4,4 persen), dan PPP (4 persen). Di wilayah konflik seperti Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Aceh Timur kemenangan PA mencapai 70 persen. Bahkan di kabupaten Pidie, kampung halaman Hasan Tiro PA menang 90 persen.

Kemenangan PA bukan hanya milik pesisir timur, daerah paling berdarah di masa konflik. Kecuali Aceh Tengah dan Bener Meriah yang menjadi basis Golkar, hampir seluruh kabupaten lainnya PA cukup dominan. Bahkan di Peunayong, satu daerah pecinan di Banda Aceh, PA unggul dan menjadi idola.

***
Kemenangan parlok di Aceh dalam pemilu kali ini boleh disebut sebagai suka di tengah luka. Di tengah carut-marut proses pemilu, 50 juta pemilih menjadi “golput konstitusional” akibat rejim DPT (daftar pemiluh tetap), pemilu di Aceh memberikan sejarah nasional.

Walau sejak pemilu 1955 parlok telah sempat berpartisipasi di Yogyakarta, Banten, dan Kalimantan, tapi tak mengguratkan cerita sukses seperti PA di Aceh.

Kemenangan PA tidak pula mudah diidentifikasi sebagai kemenangan parlok secara keseluruhan. Di samping PA ada lima parlok lain yang berkompetisi : SIRA (Suara Independen Rakyat Aceh), PRA (Partai Rakyat Aceh), PDA (Partai Daulat Umat), PAAS (Partai Aceh Aman Sejahtera), dan PBA (Partai Bersatu Atjeh). Sayang, kelimanya gagal menjadi kompetitor, bahkan kalah tangguh dibandingkan parnas (Demokrat, Golkar, dan PKS). SIRA sebenarnya “matahari kembar” PA dalam sejarah perjuangan konflik, tapi masyarakat terlanjur memilih. Sebagai yunior SIRA terpaksa mengalah pada senior. Mungkin inilah jeleknya politik yang memaklumkan prinsip patron-client dan kharismatisme.

Kemenangan PA di Aceh melewati proses pemilu yang lebih aman dan demokratis dibandingkan di Sulawesi Selatan, Yogyakarta, Jawa Timur, Maluku, dan Papua. Meski masih ada yang melihat dengan mata terpicing-picing, terutama dari partai kalah tarung yang menuduh PA melakukan intimidasi, tapi tak ada data yang lebih konkret menempatkan PA sebagai partai yang paling terintimidasi di Aceh.

Sejak dipaksa ganti nama dari Partai GAM menjadi PA pada Mei 2008, aneka teror mendera partai berbendera merah dan hanya bertuliskan ACEH ini. Mulai penggranatan rumah mantan petinggi GAM dan kantor PA; penembakan, penculikan, dan pembunuhan caleg dan aktivis partai; vandalisasi baliho caleg di Tanah Gayo, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Jaya, dan Lhokseumawe; penyebaran selebaran negatif bahwa PA adalah partai separatis di Aceh Tengah dan Bener Meriah; hingga pembubaran pertemuan kader partai oleh polisi di Aceh Barat Daya. “Prahara Alue Lintang”, Maret 2008, adalah yang terpilu, ketika lima aktivis KPA dibantai dan dibakar oleh ratusan eks milisi PETA (Pembela Tanah Air).

PA seperti menemukan momentum politik kharismatisme, semakin ditindas kekuatan politiknya semakin berkibar dan mengena di hati. Besarnya prosentase kemenangan di luar ekpektasi siapa pun. Jika berpatokan pada hasil pilkada lalu yang menempatkan kemenangan Irwandi-Nazar – saat GAM dan SIRA masih bersatu – pada 38,2 persen suara, pada pemilu 2009 GAM malah bisa melangkah lebih tinggi ketika berpisah. Pemilihnya jelas bukan hanya GAM atau korban konflik, tapi masyarakat luas yang gerah dengan politik “tipu-tipu Jakarta”. Mereka merasa bahwa isu penderitaan, kemiskinan, dan kekalahan Aceh lebih penting sebagai identitas politik lokal dibandingkan slogan nasionalisme mainstream yang terasa sengau di telinga.
***
Kemenangan PA semakin tepat karena bersanding dengan kemenangan Partai Demokrat (PD) untuk DPR-RI. Dibandingkan Golkar dan PPP, PD tidak terlalu bekerja keras di Aceh, tapi berhasil meraup 44,6 persen suara, tertinggi se-Indonesia.

Dengan pertimbangan tidak ada kejutan politik di pilpres mendatang, kemenangan PD akan memperkuat stabilitas perdamaian di Aceh. Kombinasi ini semakin sempurna jika SBY kembali berduet dengan Jusuf Kalla. Meski SBY adalah presiden yang melegalisasi perdamaian Aceh, tapi sesungguhnya Jusuf Kalla and the gank-lah yang aktif di lapangan. Kembalinya duet ini akan mempersatukan elite politik GAM yang saat ini terfragmentasi karena merapat ke masing-masing kubu.

Mungkin inilah kemenangan pertama dan terakhir bagi PA di Aceh apabila tak mampu mengubah simfoni kemenangan ini ke dalam partitur-partitur politik yang mendekatkan retorika dengan bukti. Jika tidak, seperti galibnya politik kharismatisme, pendulum sangat cepat bergeser: dari simpati ke antipati.

Teuku Kemal Fasya, Ketua Komunitas Peradaban Aceh (KPA).
Diterbitkan di Gatra, 23-29 April 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: