Hadiah

April 19, 2009 at 3:25 am (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

the-rock-poster
Teuku Kemal Fasya

Aku selalu selalu takut jika orang Yunani membawa hadiah”, Archimedes (298-212 SM).

Kalimat ini tidak saya dapatkan dari buku tapi dari sebuah film, The Rock (1996). Film yang telah saya tonton belasan kali ini adalah film aksen pernah dinominasikan Oscar. Bercerita tentang sekelompok tentara yang menguasai penjara Alcatraz, yang juga dikenal sebagai pulau karang (the rock) karena memang dibangun di sebuah pulau berjarak puluhan mil dari kota San Fransisco. Dikelilingi ombak dan ratusan hiu ganas.

Film ini berkisah tentang pemberontakan yang dipimpin oleh jenderal (purn) Francis X Hummel (Ed Harris), yang sakit hati pada pemerintah karena tidak kunjung memberikan perhatian dan menghargai pada para prajuritnya yang gugur di perang Vietnam. Para pemberontak menjadikan pulau ini bersama 80 tawanan sipil sebagai basis ancaman untuk meluncurkan rudal berhulu ledak gas biologi ke kota San Fransisco yang berpenduduk 80 ribu jiwa, jika pemerintah tidak memberikan tebusan 100 juta dollar.

Untuk menangkal hal tersebut, FBI mengirim dua orang : seorang pakar penjinak rudal, Dr. Stanleey Goodspeed (Nicholas Cage) dan seorang napi eks agen mata-mata Inggris, Kapten John Patrick Mason (Sean Connery), yang pernah dipenjara di Alcatraz tapi berhasil melarikan diri sebelum ditangkap dan dipenjara puluhan tahun tanpa pengadilan. Sikap FBI yang “tiba-tiba berbaik hati” memberikan hadiah berupa surat pembebasan asalkan membantu pasukan masuk ke lorong-lorong rahasia ke pulau penjara melatari ungkapan dari sang filsuf matematik Athena itu. Film ini berbiaya 75 juta dollar, tapi cukup sukses menangguk untung hingga 350 juta dollar di seluruh dunia dan menjadi film keempat paling kaya dalam sejarah.

Puitisasi Hadiah
Sebenarnya sejarah hadiah di dunia ambigu. Satu sisi mengisahkan keiklasan seperti Romeo and Juliette sehingga memopulerkan kata-kata “unconditional love”, cinta yang tak bersyarat. Akan tetapi, ada juga sejarah hadiah aneh dan telah terkubur sebagai contoh buruk.

Babad tentang pembangunan Candi Prambanan adalah penunjuk negatif hadiah. Candi Prambanan yang berada di wilayah Klaten Jawa Tengah berangkat dari kisah Roro Jonggrang yang meminta kepada Bandung Bondowoso untuk membangun 1000 candi dalam satu malam jika ingin menikahinya. Sang pangeran pun menyanggupi permintaan aneh itu. Namun karena cinta memang tak tumbuh, sang roro berupaya menggagalkan pembangunan yang dibantu bala jin itu, yaitu memanipulasi malam dengan api sehingga terkesan fajar menyingsing. Candi hanya berhasil 999 buah dan karena murka Bondowoso menyihir Roro Jonggrang sebagai pelengkap kasih tak sampai itu.

Hadiah kereta emas dan perhiasan untuk melunakkan hati Cleopatra, ratu Mesir terakhir oleh Julius Caesar juga menjadi contoh hadiah yang bersyarat. Meski akhirnya menikah, cinta mereka palsu. Julius terbunuh oleh sebuah konspirasi sang ratu dan Cleopatra juga mengakhiri hidupnya kemudian hari dengan membiarkan dirinya dipatuk ular berbisa.

Sesungguhnya filosofi hadiah – seperti dikatakan Hannah Arendt, seorang filsuf Jerman-Yahudi – memang tidak bersyarat. Hadiah ibarat cinta atau benci, ketika terberi tak mungkin kembali (irreversible). Apa yang sudah lepas dari diri, bukanlah lagi milik diri. Ia telah menjadi milik orang lain. Hadiah adalah tanda ingat kepada seseorang. Penerima yang akan memorisasi hadiah itu pada momennya. Hubungan itu bersifat simbiosis. Jika benci memberikan momen negatif pada memori, hadiah dan juga cinta memberikan memori positif.

Itulah sebab dalam Islam Nabi Muhammad menganjurkan seseorang untuk kerap memberikan hadiah, karena hadiah berwujud tindakan emansipatif: kepada sesama teman atau keluarga. Ia tidak hirarkis-feodal seperti sedekah atau infaq, yang diberikan kepada kelas lebih rendah serta mengharap Tuhan membalas dengan berlipat. Melalui hadiah sebenarnya pemberi membangun resonansi kebahagiaan atas dirinya sendiri. Ia tidak retroaktif, menunggu agar seseorang akan membalasnya suatu saat.

Jacques Derrida mengumpamakan hadiah itu seperti maaf (forgiveness). Filsuf Perancis keturunan Aljazair-Yahudi itu menyatakan, ketika seseorang memberikan maaf dia telah mendekonstruksi relasinya dengan yang diberi maaf menjadi sesuatu yang berbeda dari hubungan sebelumnya. Menguktip kata-kata paling paling terkenal dari Derrida, “seseorang hanya mungkin memaafkan jika ia juga mungkin menghukum”. Jika ia tidak bisa memberi maaf sama kuasanya dengan menghukum maka itu hanya sebuah maaf palsu, maaf terpaksa. Demikian pula hadiah, seseorang hanya mungkin memberikan hadiah dengan keleluasaan yang sama seperti menerima hadiah. Ketika hadiah diberikan, ia harus bisa mendekonstruksi diri seperti tidak pernah memberi. Dekonstruksi hadiah akan menunda-bedakan (différance) dirinya sekarang dan sesudahnya. Kalau dalam bahasa agama sering disederhanakan dengan ikhlas.

Maka saya merasa asing, risih, dan malu hati mendengar kasus caleg gagal pemilu meminta kembali hadiah yang telah diberikan kepada konstituennya. Bukan saja ia tak memahami esensi hadiah sebagai bentuk kebijaksanaan moral dalam berelasi dengan orang lain, tapi momen ini bisa menjadi sejarah perkembangan penanda baru dalam logika sosio-linguistik: “Perhatian-perhatian, hadiah yang sudah diberikan, sewaktu-waktu bisa diminta kembali. Hadirin diharap mengerti”. Alamak!

Teuku Kemal Fasya, Antropolog Aceh.
Dimuat di Harian Aceh, 19 April 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: