Suka di Tengah Luka

April 14, 2009 at 10:21 am (kumpulan artikel)

hasan-tiroSusilo Bambang Yudhoyono
Teuku Kemal Fasya

Belum pernah ada pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) sekacau-balau 9 April 2009. Sejak enam jam pasca-pemilihan aneka kekurangan pemilu mulai menyeruak, seperti bulir rahasia yang keluar dari kotak pandora. Tak pelak, pihak yang menjadi kambing paling hitam adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Jika pada pemilu 1999 angka “golongan putih”, suara yang tidak sah, baik karena tidak digunakan atau rusak hanya 6,7 persen, pemilu 2004 meningkat 15,9 persen, maka di tahun 2009 ini angka golput diperkirakan meroket sebesar 30-40 persen. Hasil quick count pemenang pemilu 2009 adalah Partai Demokrat dengan 20 persen lebih, tapi masih kalah jauh dibandingkan golput.

30-an persen suara golput itu bukan golput ideologis. Melihat respons komunitas Facebook – kebanyakan adalah golongan kelas menengah – banyak yang ogah ikut pemilu karena tidak akan mengubah apapun hidup mereka. Namun, rakyat Facebook Indonesia bukan representasi masyarakat Indonesia, karena jauh di pelosok desa-desa banyak masyarakat yang berhasrat pada pemilu kali ini. Para ibu-ibu pemilih di Nias sampai teriak histeris karena dilarang memilih hanya alasan tidak tercantum di daftar pemilih tetap (DPT). Mengikuti pemilu sebenarnya hak melekat pada semua warga negara, harus terseleksi ketat oleh DPT. Anehnya ketika ada improvisasi, seperti dilakukan pengurus KPU Depok karena kasihan melihat pemilih yang tidak terdaftar, malah kena damprat dan dianggap melanggar peraturan.

Seluruh carut-marut pemilu kali ini makin memalukan ketika tertukarnya surat suara di luar daerah pemilihannya (Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Jawa Timur). Mudah ditebak, banyak caleg yang telah menguras rekening, gengsi, dan keringat di pemilu pertama yang memilih orang ini, merasa kecewa karena suaranya terakumulasi pada partai. Otomatis nomor urut pertamalah yang terancang untung.

KPU pun dianggap tidak memiliki sensitivitas ketika menetapkan pemilu 9 April bagi penganut keyakinan nusantara. Desakan untuk mengundurkan pemilu demi menghormati perayaan besar Hindu dan Kristiani, tidak pernah didengarkan. Jangan salahkan jika sebagian besar masyarakat NTT dan Bali tidak mau mengganti ritual mereka hanya untuk mengikuti pemilu. Pemilu hanya memberikan asa untuk lima tahun, tapi kepuasan spiritual tak tergantikan. Hasilnya, sebagian besar TPS di NTT harus melaksanakan pemilu pada 14 April.

Itu belum berhenti. Hampir seluruh warga yang sedang terbaring di rumah sakit atau mendekam di penjara tidak bisa menikmati pesta rakyat ini karena tidak memiliki formulir A5 (surat mutasi pemilihan). Yang sakit dan pesakit di penjara makin sedih. Pemilu 2009 menggugurkan mereka. Belum lagi keluhan surat suara terlalu besar, partai terlalu banyak, kotak suara terlalu kecil, dan tradisi baru menyonteng (bahasa mencontreng tampaknya kekeliruan yang dipelihara) menambah runyam pemilu kali ini. Teringat apa yang disampaikan oleh Aboeprijadi Santoso, seorang wartawan senior, siapa pun pemenang pemilu kali ini akan merasakan hambar legitimasi karena kuota pemilih adalah remah-remah (kremih-kremih) suara yang telah rusak oleh golput atau digolputkan oleh KPU.

Namun terlepas buruknya kinerja KPU, pemilu kali ini telah memberikan angin perubahan baru. Kekuatan demokrasi baru telah muncul, mengalahkan ortodoksi politik yang selama ini hanya dikuasai oleh PDIP dan Golkar. Keajaiban Demokrat seharusnya bisa diprediksi kalau tekun menangkap sinyal-sinyal rakyat sebelumnya, terutama pada hasil pilkada. Masyarakat saat ini mau perubahan konkret dan bukan plastik. Gincu banteng dan kesejukan pohon beringin tak kunjung memilaukan, hanya menyebar aura perubahan artifisial.

Di Aceh pemilu ini lebih spesial. Kehadiran partai lokal untuk pertama kali dalam sejarah pemilu Indonesia pasca-1955 telah memberikan kegairahan masyarakat. Belum pernah saya saksikan sebelumnya, masyarakat Aceh berbondong-bondong dengan muka ceria dan berpurdah wangi menghadiri TPS untuk memilih. Mereka memilih “Aceh”, sesuatu yang telah lama disembunyikan dan disungsang oleh retorika politik atas nama NKRI, nasionalisme, stabilitas politik, keutuhan bangsa. Masyarakat telah memilih dan menentukan arah politiknya.

Terang saja masyarakat Aceh gembira. Tak pernah ada keunduri meriah di Aceh kecuali perayaaan maulid rasul. Empat pemilu sebelumnya selalu datang bak mimpi buruk. Mereka hadir ke kotak-kotak pemilihan dengan ketakutan dan pria berbaret yang berjaga-jaga. Banyak masyarakat yang telah lupa bagaimana seharusnya berpemilu dengan bebas dan merdeka.

Pemilu 2009 telah memberikan jawaban bagi para analis palsu dan demagog fascis yang sering melihat Aceh dengan mata terpicing-picing bahwa Aceh akhirnya berkesempatan memilih secara bebas dan merdeka. Tentu tak ada yang seratus persen mulus. Ada saja gelitik dan bujuk rayu tak kreatif. Mungkin saja ada yang dipaksa atau memaksa. Namun di bukit manakah ada kesempurnaan melihat bulan bersinar sebulat-bulatnya? Nikmati saja purnama meski nyamuk sedikit mengganggu.

Proses yang tidak sempurna pemilu kali ini tetap memberikan fatsoen untuk menatap angin perubahan yang mulai berhembus sejuk. Tak ada kesempatan untuk surut karena layar telah terkembang. Hanya ada tantangan, bagi para pelakon demokrasi baru, baik Partai Demokrat di nasional atau Partai Aceh di lokal, untuk menebah tantangan zaman. Mereka harus siap menyatakan bahwa tanpa tongkat lama, tetap bisa melangkah. Tahniah! Proficiat! Acta non verba. Ditunggu tindakan nyata dan bukan kata-kata!

Teuku Kemal Fasya, Antropolog Aceh.
Dimuat di Harian Aceh, 12 April 2009

1 Komentar

  1. Sismono La Ode said,

    Kritis…………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: