Tujuh Jagoan

April 13, 2009 at 8:44 am (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

100_25022
Teuku Kemal Fasya

Angka tujuh di banyak mitologi berhubungan dengan angka keramat. Banyak penanggalan yang dikaitkan dengan tujuh. Dunia, seperti dikatakan dalam film Seven Pounds, diciptakan dalam tujuh hari.

Dalam tradisi Eropa angka tujuh dianggap mewakili sifat keberuntungan, berlawanan dengan angka 13 yang dianggap sial. Biasanya untuk mengurangi risiko kutukan disebutlah angka 13 sebagai lucky number, agar jika pun akhirnya harus sial taklah teruk sangat. Kalau tidak percaya, sila periksa apartemen, apakah ada lantai 13 atau nomor kamar hotel 13. Pasti tertulis 12 A dan 12 B.

Di Lega Calcio Italia era 90-an, dikenal istilah seven magnificent (magnifici sette), untuk menyebut tujuh klub cemerlang yang kerap menjadi buah bibir karena prestasinya. Tujuh klub itu adalah Juventus, AC Milan, Inter Milan, Fiorentina, AS Roma, Lazio, dan Parma. Meski yang sering menjadi juara Seri A adalah tiga klub pertama, tapi empat klub lainnya selalu menjadi pesaing terberat. Bahkan Parma yang kini turun kasta ke Seri B pernah menjadi juara UEFA dan Winner.

Tujuh Partai Terkuat

Tanggal 9 April akan membuka misteri politik. Memilih tujuh partai pemenang sebenarnya tidak sesulit seperti memetik tiga besar. Sejarah, fenomena kampanye, mobilisasi massa, dan kinerja partai akan memberikan jawaban partai pemenang. Analisis saya, dan mungkin Anda sepakat, adalah Golkar, PDIP, PKS, PAN, Partai Demokrat, Partai Gerindra, dan PKB.

Keberhasilan Golkar tidak terbantahkan. Golkar adalah partai tertua tersisa yang memiliki DNA politik sebagai juara. Keberhasilan di enam pemilu Orde Baru sebenarnya hanya salinan historis saja kalau Golkar tak mampu memberikan prestasi di era pasca-Soeharto. Di era reformasi Golkar tidak hilang bahkan mampu merebut kemenangan pada 2004. Peran Akbar Tanjung menyamak partai ini hingga menggulingkan pemerintahan sah (Abdurahman Wahid) menunjukkan bahwa ia tak bisa dianggap remeh. Soal kebersihan? Politik tidak membutuhkan kebersihan, karena tidak menjadi syarat thaharah pemilu.

PDIP pernah menjadi simbol partai wong cilik pasca tragedi 27 Juli 1996. Banyak partai mengaku mewarisi semangat Bung Karno, marhaenisme, tapi tak ada nilai revivalisme melebihi partai bersimbol banteng ini. Sayangnya, kinerja buruk Megawati ketika menjadi presiden membuatnya ikut terhempas. Politik tidak hanya perlu karisma tapi juga visi dan kecerdasan.

PKS menjadi “partai serius” sejak berhasil masuk tujuh besar pada pemilu pertamanya. Banyak pengamat melihat, pasca-pemilu 1999 hanya PKS partai berorientasi Islam yang bisa menjadi partai modern, menggeser kekuatan partai yang didukung ormas besar seperti Muhammadiyah dan NU. Indikator keseriusannya juga bisa dilihat dari prestasi pilkada di beberapa daerah penting seperti Jawa Barat, Banten, dan Sumatera Utara. PKS telah belajar membangun citra dan memperkuat mesin politik pemenangan massa. Blunder politik karena mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan, mendukung kenaikan BBM dan UU Anti-pornografi memang agak menyurutkan citra partai ini. Tapi cacat setahun belakangan pelan-pelan mulai diperbaiki.

Keunggulan PAN tak lain karena mampu merebut hati mayoritas Muhammadiyah. Partai ini juga partai berorientasi Islam menjunjung pluralisme. Meskipun ada beberapa partai lainnya mengaku anak Muhammadiyah, posisi PAN belumlah tergoyahkan. Mega iklan “hidup adalah perbuatan” yang menguras tak kurang Rp. 300 miliar oleh ketua partainya ikut menambah, atau paling tidak mempertahankan memori pemilih. Keinginan merebut 15 persen suara memang lebih mirip sebuah obsesi, tapi tak ada yang tak mungkin. Kelemahannya karena tidak ada tokoh sekaliber Amien Rais yang bisa menjadi simbol nasional.

Partai Demokrat kurang spesial untuk disebut partai berideologi kuat. Daya pinang partai ini adalah SBY. Partai Demokrat memeroleh 7,5 persen suara pada pemilu legislatif 2004 dan berada di urutan ketujuh, tapi sanggup menjadi mesin pemenangan pemilihan presiden. Kemenangan duet SBY-Jusuf Kalla sebesar 33, 58 persen pada putaran pertama dan 60,62 persen ketika head to head dengan Megawati-Hasyim Muzadi pada putaran kedua adalah prestasi terbesar, apalagi mampu mengajak Jusuf Kalla dari Golkar sebagai pendamping SBY. Sebuah survei menunjukkan Partai Demokrat akan sulit mempertahankan posisi tujuh besarnya jika SBY tidak lagi berkuasa.

Kehadiran partai Gerindra sebagai pendatang baru dengan mengusung Prabowo sebagai presidennya persis mengulang skenario Partai Demokrat 2004. Perbedaannya Prabowo bukanlah “menteri terzalimi” di kabinet SBY. Tapi pencitraan ultra-nasionalisme yang diusung partai ini plus gula-gula kebobrokan pemerintahan SBY yang pro-privatisasi adalah kampanye citra yang berhasil. Romantisme pemilih akan era Soeharto yang stabil adalah fenomena politik era transisi. Selama transisi tidak mengarah ke konsolidasi demokratis, partai seperti Gerindra tetap mendapatkan tempat di hati masyarakat.

PKB adalah NU. Kehadiran PKB memang telah menyedot potensi NU dari partai Islam sebelumnya, PPP. Popularitas Abdurrahman Wahid tidak sebatas warga NU tapi juga kelompok pro-demokrasi, ikut memperbesar kans partai ini. Dua pemilu 1999 dan 2004, PKB berhasil mengungguli PPP dari jumlah persentase suara pemilih (urutan ketiga), meski dari jumlah kursi di DPR berada di urutan keempat, karena konsentrasi suara di provinsi tertentu (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur). Namun, pasca-Gus Dur dan konflik internal partai, PKB harus melupakan menjadi partai papan atas. Keberhasilan masuk tujuh besar di pemilu kali ini sudah berkah besar.

Setelah Pemilu, Next?

Probabilitas seven magnificent di urutan terakhir bisa sangat tinggi. Beberapa partai seperti PPP, Hanura, PBR, dan PBB bisa saja menggeser posisi enam dan tujuh, tergantung pada konsep persuasi di masa-masa akhir kampanye.

Kemampuan Hanura untuk populer dibantu oleh rasa frustrasi masyarakat. Imajinasi negara kuat masih ada di sebagian masyarakat Indonesia. Seperti menguatnya partai ultra-nasionalis di Thailand dan Israel, adalah isyarat bahwa di samping kesejahteraan masyarakat masih merindukan kestabilan politik dan “kedaulatan” (sovereignity).

Namun tujuh jagoan ini harus berpikir, setelah kursi dan legitimasi diperoleh lalu apa? Memperkuat segregasi “politik perkauman” sehingga politik terus labil seperti sejarah politik pascapemilu 1955 dan 1999 atau berkonsolidasi demi kepentingan bangsa? Seperti dikatakan oleh Thomas Jefferson, presiden Amerika Serikat ketiga, “Kesetiaanku pada partai harus runtuh ketika aku menjadi presiden”.

Teuku Kemal Fasya, Dosen FISIP Universitas Malikussaleh.
Tulisan ini dimuat di Harian Aceh, 5 April 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: