Menjadi Kota Warisan Dunia

April 8, 2009 at 4:23 pm (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

Teuku Kemal Fasya

Banyak orang mengetahui Malaysia melalui Kuala Lumpur, kota kosmopolitan yang tertata dan ramah lingkungan dibandingkan Jakarta. Atau orang lebih setuju tentang Pulau Penang karena menjadi tujuan wisata medis murah dibandingkan Singapore. Tapi sedikit yang mengingat Melaka.

Melaka atau Malaka, satu dari 13 negara bagian Malaysia, sebenarnya hanya daerah kecil saja. Namun sejarah Melaka terentang sejauh 500 tahun. Sebuah iklan yang penulis temui di jalan berbunyi, “Mengunjungi Melaka berarti Anda telah mengunjungi seluruh Malaysia”, sebuah iklan yang terkesan bombastis. Satu hal lagi, kota ini telah ditetapkan UNESCO, organisasi PBB tentang pendidikan, sosial, dan budaya, sebagai satu dari delapan wilayah warisan dunia terbaru (world historical sites), pada 7 Juli 2008. Berjejer di antara situs lainnya, seperti George Town (Penang), situs pertanian Kuk (Papua New Guinea), benteng Vauban (Perancis), gereja-gereja kayu di area pegunungan Charpatean (Slovakia), pusat sejarah San Marino dan puncak Titano (San Marino), dll.

Perjalanan Spiritual
Penulis tiba di kota ini tepat pada hari raya Imlek. Dari terminal Puduraya, KL, harga tiket hanya 12.5 RM atau Rp 40 ribu. Waktu perjalanan hanya sepukul tidur siang, dua jam.

Setiba di kota ini, hangat siang masih melembabkan kulit. Penulis menuju Taman Kota Laksamana, termasuk wilayah cagar budaya Melaka. Dari jalan itu penulis memasuki Jangkor Walk, daerah pecinan yang sangat terkenal, hampir sama dengan Petaling Street di Kuala Lumpur, Glodok di Jakarta, atau Peunayong (Banda Aceh) era 80-an.

Hari pertama Imlek memang dipenuhi aktivitas beribadatan di kuil. Situs pertama penulis kunjungi adalah sebuah kuil tua China, bahkan tertua se-Malaysia. Cheng Hoon Teng, berdiri sejak 1646. Hampir berhadapan terdapat sebuah kuil Budha, Xiang Lin Si, yang juga dijadikan tempat mengucapkan rasa syukur atas keberhasilan selama satu tahun. Tak jauh dari tempat itu terdapat Mesjid Kampung Kling yang berdiri 1748, satu di antara mesjid tertua Malaysia. Mesjid ini cukup eksotik, mirip mesjid tua di daerah Keudah-Kampung Jawa, Banda Aceh. Menurut penduduk setempat, daerah ini dulunya pemukiman Tamil, kini lebih banyak penduduk keturunan China. Penulis menyempatkan shalat Ashar di sana.

Hari itu ternyata gerhana bulan. Atas anjuran seorang ulama mesjid itu kami melaksanakan shalat gerhana setelah Ashar. “Kalau kita tak shalat gerhana, satu Melaka dimurkai Allah”, demikian Ustadz Ahmad bin Abdul Wahab memulai khutbah setelah shalat.

Dari khutbah itu penulis mengetahui keberadaan makam seorang ulama besar asal Aceh, Syekh Samsuddin as-Sumaterani. Ia murid ulama, filsuf, dan bapak linguistik Melayu modern : Syekh Hamzah al-Fansury. Samsuddin as-Sumaterani adalah seorang mufti besar yang hidup sezaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Dalam buku sejarah Ali Hasjmy tidak pernah disebutkan ulama yang akhirnya tersingkir akibat rivalitas dengan Nuruddin ar-Raniry itu mengungsi hingga ke Johor Bahru dan wafat di Melaka. Dalam peta turisme Melaka tak ditulis situs ulama besar ini. Nampaknya ada dendam-terendam antara Aceh dan Melaka, terutama ketika sultan Aceh, Alidin Ali Mughayatsyah melakukan invasi ke Melaka, 1521. Pengaruh Aceh terlihat jelas pada jejak sejarah Melaka, bahkan sejak masa kerajaan Pasai (1272 – 1450). Makam itu dekat dengan mesjid Kling.

Setelah itu penulis menuju ke pusat kota. Ikon kota adalah Menara Jam (Clock Tower) dan Gereja Kristen Melaka 1753 yang diapit gedung Balai Seni Melaka dan Stadthuys Museum. Seluruh bangunan berwarna merah bata – simbolisasi arkhaisme (kekunoan). Kunjungan Stadthuys Museum memberikan kesan bahwa pemerintah kota sudah lama peduli pada upaya pengumpulan setiap keping sejarah dan etnografi mereka. Sejak menjadi daerah persinggahan pedagang China (1500 SM), daerah taklukan Prameswara (raja Sriwijaya, tapi dalam sejarah Melaka disebut sebagai raja pertama mereka, 1424), hingga menjadi bandar multikultural oleh sejarah panjang kolonialisme, sejak Portugis (1511-1641), Belanda (1641-1824), dan Inggris (17 Maret 1824-1942).

Setelah itu penulis berturut-turut memasuki Museum Istana Sultan Melaka, Museum Nyonya Bhaba, reruntuhan Gereja St. Paul, dan benteng Famosa. Semuanya dapat dilakukan dengan berjalan kaki, sepertinya seluruh situs ditakdirkan berdekatan. Reruntuhan Gereja St. Paul telah menjadi kumpulan batu nisan para tokoh kolonial Belanda dan Inggris. Penulis mengutip sebaris kata di sebuah nisan karena keunikannya, “Hier lecht begraven Anganeta Robberts Alma Huysvrouwe von Coopman David Verdonck, Oud 29 Iaren gestorven op 6 February 1652dsc04952-1”. Di sini terbaring tenang Anganeta Robberts, istri seorang pedagang, David Verdonck. Berangkat dari kehidupan ini pada usia 29 tahun, 6 Februari 1652. Puisi indah untuk sebuah batu nisan.

Jangan lupakan pula untuk menikmati perjalanan di sungai Melaka dengan boat penumpang atau river cruise. Penulis beruntung menumpang boat tepat tengah malam, menikmati susuran sungai dan bangunan kuno terawat sebagai hiasan mata. Imajinasi liar pun mengikuti perjalanan maritim di sungai bersih dari sampah, tetapi keruh ini. Dengan tiket 10 RM (Rp. 32 ribu) kita telah mengerut semua keindahan tempo dulu dalam setengah jam perjalanan. Terakhir, manjakan lidah dengan hidangan laut di sebuah restoran di sisi sungai (Quayside Restaurant). Satu-satunya restoran dan wunderbar; luar biasa rasanya! Sebuah kakap besar siap panggang hanya 30 RM (Rp. 95 ribu).

Dan Kita?
Pertanyaannya, mengapa kita, sebagai bangsa besar, dengan 17 ribu pulau dan 250 etnik dan bahasa tidak mampu menyumbang apapun kecuali Borobudur sebagai warisan dunia? Banda Aceh yang dibanggakan sebagai ibukota kerajaan Islam terkuat kelima abad 17 hanya tinggal oase tanpa jiwa. Bukan karena tsunami, tapi rekonstruksilah yang menyebabkan tabungan 800 tahun sejarah Kutaradja menjadi tak bernilai. Ada pembangunan museum, tapi tak berfungsi. Memori lenyap seiring hilangnya tradisi.

Hanya tinggal sedikit pilihan yang bisa diajukan sebagai kota warisan dunia, yaitu Palembang-Jambi (ibukota Sriwijaya), Solo, atau Yogyakarta (pusat kerajaan Mataram), setelah Banda Aceh dan Ambon cacat oleh konflik dan rekonstruksi-destruktif. Yang paling mungkin adalah Solo, city of Batik, yang kini ditetapkan sebagai kota budaya nasional

Bangsa ini memang tak takut merusak situs budaya, seperti penghancuran situs Majapahit beberapa waktu lalu. Kita terlampau silau oleh lampu modernisme dan globalisasi. Padahal inti globalisasi ada pada falsafah dan pemikiran dan bukan pada bentuk atau bangunan. Kesadaran kita masih kuno dan miskin. Ketahuilah, miskin budaya akan menyebabkan miskin akhlak dan iman (Fransisco de Sanctis).

Mengaku religius, ternyata rakus. Mengaku spiritualis tapi sungguh materialis.

Teuku Kemal Fasya, Ketua Komunitas Peradaban Aceh
Dimuat di Harian Aceh pada 15 Maret 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: