Israel, Hamas, dan Subaltern

Januari 17, 2009 at 7:49 am (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

ini

Teuku Kemal Fasya

Dunia menghadapi tahun baru dengan suka-cita, tapi Palestina menyambut dengan tangisan. Tepat pada 1 Januari sebuah bom seberat satu ton menghantam rumah tokoh Hamas, Nizar Rayan, yang menyebabkan ledakan dahsyar dan menghancurkan tubuhnya. Pembunuhan ini seolah dianggap sah dalam perang, karena Rayan adalah salah seorang tokoh Hamas-kelompok garis keras yang lebih sering menolak berunding dengan Israel. Tapi, serangan roket itu juga menewaskan istri dan dua anaknya yang masih belia.

Pembantaian dan serangan roket Israel yang membabi-buta ini yang dimulai sejak 27 Desember tahun lalu itu telah menyebabkan lebih 1100 jiwa tewas dan lebih 5000 jiwa terluka. Lebih 500 jiwa yang meninggal adalah anak-anak dan perempuan.

Dunia tidak bereaksi. Sikap PBB pun tidak seaktif dibandingkan jika krisis kemanusiaan itu terjadi di Afrika dan Amerika Latin. Timur-tengah, terutama jika krisis berhubungan dengan Israel, adalah pengecualian “kemanusiaan”! Terlihat bahwa Israel menguasai “transkrip publik” untuk menyatakan objektivitasnya atas peperangan ini, termasuk penyesalan retoris atas terbunuhnya sipil. Tetapi, Hamas dan Palestina, seperti tidak punya hak yang seimbang untuk membicarakan kepentingannya sendiri. Hamas adalah subaltern.

Subaltern versus Dominan
Gagasan tentang subaltern ini menjadi populer kembali setelah Gayatri C. Spivak menuliskan sebuah artikel pada 1985 dengan judul Can the Subaltern Speak : Speculations on Widow Sacrifice. Dari judulnya tergambar bahwa yang dimaksud subaltern adalah ungkapan lain dari keberadaan janda (sati) di India. Para janda dianggap berpangkat kelas sosial terendah. Dalam tradisi Hindu India, seorang istri yang telah ditinggal suami adalah seorang individu yang no-body dan sepatutnya membakar diri bersama jenazah suaminya. Jika melanjutkan kehidupan, seorang janda mengalami situasi yang berat. Janda dan miskin adalah kombinasi terjelek pada konteks kultur India, bahkan belum hilang sampai sekarang.

Konsep subaltern Spivak bersinggungan dengan ungkapan Ranajit Guha, seorang sejarawan, yang melihat bahwa historiografi India juga dipenuhi oleh konsep kolonial (bukan hanya Inggris tapi pribumi yang bersekongkol dengan Inggris). Dalam On Some Aspects of the Historiography of Colonial India (1982), Guha melihat bahwa sejarah India terlalu kosong dari sejarah para subaltern dan kelompok menengah bawah kota-desa. Makanya ia menekankan penulisan sejarah ulang. Yang dimaksud subaltern oleh Guha adalah yang bukan elite; yang selalu menjadi objek dan di-atasnamakan.

Kedua konsep ini secara generik terambil dari konsep Antonio Gramsci, seperti terbaca pada Notes on Italian History (1934), bahwa sejarah kelas subaltern sebenarnya tak kalah kompleks dibanding kelompok dominan. Namun sayang hanya kelas dominan sajalah yang dapat mencatatkan sejarahnya. Subaltern selalu dihalang-halangi mendapatkan akses pada sejarah dan representasi mereka sendiri. “Hanya sebuah kemenangan permanenlah, yaitu melalui revolusi kelas, yang dapat memutus subordinasi ini”, kata Gramsci.

Dari penjelasan ini, terutama didukung dengan konsep sati dari Spivak terlihat struktur penindasan terhadap subaltern tidak hanya dilakukan oleh kelompok dominan di luar dirinya, tetapi dipercepat persuasi yang dilakukan, baik komunitas luar-non dominan atau internal subaltern sendiri. Para janda di India seolah-olah menyadari mereka menginginkan mati bersama suaminya. Problem ini muncul karena hancurnya ruang untuk merepresentasikan diri sendiri dan kandasnya supra-struktur di luar dirinya untuk membangun relasi penghadiran kembali diri sendiri (self-representing). Dalam ungkapan Spivak, “tak ada mulut yang bisa menyuarakan kepentingan dirinya (sang janda) dan tak ada telinga yang mau mendengarkan ”. Kompleksitas ini melahirkan konstruksi budaya patriarkhal yang menjadi pengetahuan untuk semua, sekaligus ketidak-adilan untuk subaltern.

Menghancurkan Subalternitas Hamas-Palestina
Realitas perang Israel-Hamas di Gaza (dan sekarang telah meluas ke Libanon) memperlihatkan langgengnya struktur sosial dan hukum internasional yang tidak adil terkait hubungan kelas dominan-subaltern.

Pembantaian lebih 1000 jiwa dalam waktu tiga minggu ini harus dilihat sebagai kejahatan kemanusiaan. Jari-jemari subalternitas yang telah menyebar ke luar hubungan dominan-subaltern ini harus diputus. Atau dalam bahasa Spivak disebut sebagai de-centering dominant cultures (membongkar pusat-pusat budaya dominan). Walaupun PBB, CNN, BBC dan Amerika Serikat bukan pihak yang terkait langsung pada pemusnahan massal, tapi cara pandang mereka yang tidak seimbang ikut menjerumuskan konflik ini, dan ujung-ujungnya semakin membuat masyarakat Palestina menderita, baik melanjutkan perang atau gencatan senjata.

Salah satu yang harus diubah adalah cara melihat efek pelaku (subject-effect) dari subalternitas Hamas. Walaupun Hamas merupakan kelompok garis keras di Palestina, bukan berarti membenarkan pembantaian anak-anak dan perempuan, atau bahkan sipil yang tidak bersenjata. Itu dua hal yang berbeda. Keberadaan Hamas adalah representasi logis dari penderitaan puluhan tahun, dan kemenangan mereka pada pemilu legislatif tiga tahun lalu adalah bukti kecintaan dan ekspresi demokrasi rakyat Palestina atas komitmen perjuangan yang dipilih (78 dari 138 kursi parlemen).

Can the subaltern speak? Dapatkah Hamas berbicara atas dirinya sendiri?

Teuku Kemal Fasya, Dosen FISIP Universitas Malikussaleh.

Dimuat di koran Seputar Indonesia, 17 Januari 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: