Demokrasi Baru dalam Partai Politik Lokal

Agustus 2, 2008 at 4:30 pm (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

Teuku Kemal Fasya

7 Juli lalu, Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh telah menetapkan enam parpol lokal untuk mengikuti proses pemilihan umum 2009. Di saat yang sama KPU Pusat menetapkan 34 parpol yang lolos verifikasi faktual. Keempat puluh partai nasional dan lokal ini telah tersusun dalam nomor urut partai peserta pemilu 2009.

Kehadiran parpol lokal di Aceh memang telah menjadi bagian dari paket perdamaian Helsinki, 15 Agustus 2005. Legitimasinya termaktub dalam UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh, PP No. 20/2007 dan Qanun No. 3/2008 tentang partai lokal. Enam partai yang lolos tersebut adalah Partai Aceh (PA), Partai Aceh Aman Sejahtera (PAAS), Partai Bersatu Aceh (PBA), Partai Daulat Aceh (PDA), Partai Rakyat Aceh (PRA) dan Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA).

Lokal Dulu, Baru Nasional
Kehadiran partai lokal di Aceh bukan hanya eksperimen politik baru untuk daerah yang telah lama terbenam dalam konflik, tetapi juga tesis yang dapat diajukan di daerah lain untuk menguji eksistensi parpol nasional. Era multi partai yang dimulai sejak 1999 sebenarnya telah menunjukkan silogisme bahwa tidak ada partai yang cukup lekat disebut nasional kecuali Golkar, yang saat ini pun semakin tidak diminati.

PKB misalnya hanya mampu menjadi media agregasi politik di daerah kantong NU, PAN hanya eksis di wilayah basis Muhammadiyah, PDIP hanya menang di basis historis PNI dulu, dsb.

Parpol nasional sesungguhnya secara faktual hanya partai regional. Ia tidak cukup mampu merepresentasikan seluruh lingkup keunikan dan pluralisme politik daerah se-nusantara. Logika yang perlu dibangun ke depan, lokalitas atau regionalitas harus menjadi bagian dari kepentingan nasional, dan bukan sebaliknya.

Parpol lokal di Aceh juga menjadi bagian dari tesis tersebut. Kehadiran parpol lokal di Aceh dibayangkan menjadi kekuatan politik baru, menggusur ketidak-berpihakan parpol nasional pada rakyat, yang makin terlihat di masa konflik lalu. Kehadiran parpol nasional di Aceh hanya formalisme politik di siklus pemilu. Ia bukan infrastruktur yang tumbuh secara sehat dalam ruh politik dan demokrasi masyarakat.

Contoh terdekat, menjelang berakhirnya perjanjian penghentian permusuhan (CoHA), ketika gubernur Abdullah Puteh mendukung kebijakan operasi militer, para tokoh parpol nasional di Aceh ikut mengamini kebijakan itu tanpa opsi alternatif. Pemilu 2004 pun hanya menjadi seremoni tanpa jiwa demokrasi karena berlangsung di suasana perang.

Nah, kehadiran parpol lokal saat ini menjadi ujian pamungkas atas ketidakberdayaan parpol nasional di Aceh. Ujian awal telah terjadi pada Pilkada 2006 lalu, ketika calon independen mampu memenangi kursi gubernur dan hampir seluruh posisi bupati/walikota. Parpol lokal yang terbentuk sekarang adalah mesin politik bayangan yang memenangi Pilkada lalu, terutama Partai Aceh dan SIRA. Pemilu 2009 tentu masih menjadi misteri bagi parpol lokal, karena prediktibilitas yang terbuka dan pertimbangan daya nilai masyarakat atas kinerja gubernur dan bupati/walikota calon independen.

Tantangan lain parpol lokal adalah representasi dan partispasinya yang terbatas. Dalam PP No. 20/2007 disebutkan bahwa kepentingan lokal dalam parpol lokal hanya akan berhenti di Aceh (DPR Aceh/DPR Kab/kota). Ia hanya akan tersambungkan ke parlemen jika berafiliasi dengan parpol nasional (pasal 11).

Kesuksesan akan terjadi jika parpol lokal mampu membangun koalisi dengan parpol nasional yang senafas, baik platform dan ideologi politik. Namun, bisa jadi tidak akan terealisasi, sebab genealogi politik lebih terbentuk pada hal-hal konkret (kepentingan, kekuasaan, survivalitas) dibandingkan yang abstrak (platform, program, ideologi, dsb). Ini pula yang memungkinkan Partai Aceh berkoalisi dengan Partai Golkar karena kedekatan para pimpinan GAM dengan Yusuf Kalla sebagai inisiator perdamaian di Aceh.

Meskipun demikian, parpol lokal harus mampu menunjukkan identitas dan kedekatannya dengan konstituen. Persona para calon legislatif lebih menentukan dibandingkan kulit partai. Jika parpol lokal masih memberikan kendaraan bagi para petualang politik lama untuk berkecimpung, tentu memengaruhi daya pikatnya. Komposisi pengurus parpol lokal yang rata-rata berusia muda adalah modal politik bagus untuk menghasilkan spirit dan perubahan. Idealisme akan perubahan harus lebih kuat dibandingkan oportunisme. Dengan cara itulah peta pembangunan politik Aceh dapat lepas dari skenario lama yang penuh kebangkrutan dan konflik.

Hindari Kemenangan Semu!
Setiap pemilu selalu memberikan aura dan harapan perubahan, walaupun bisa jadi hanya pepesan kosong. Perubahan bisa jadi hanya pada struktur dan orang, tidak pada esensi. Semakin perubahan mampu mengarah pada esensi dan nilai, semakin berhasil sebuah proses demokratisasi.

Banyak pihak memprediksi pemilu 2009 akan menjadi eranya parpol lokal di Aceh, tapi apakah angin perubahan akan berhembus? Kemiskinan, luka, apatisme, dan sepinya demokrasi substantif dalam masyarakat adalah pertanyaan yang perlu dijawab. Korban konflik dan tsunami adalah enigma sunyi lainnya.

Di Aceh, realitas korban adalah filius istarum lacrymarum, putra air mata yang perlu diseka. Dekatnya-jauhnya mimpi perubahan harus mampu diartikulasikan oleh parpol lokal untuk menutup sejarah lama. Jika tidak, kemenangan hanya berarti semu, tidak menggugah, mengguncang, dan mendaratkan teks kemenangan bagi rakyat.

Teuku Kemal Fasya, Ketua Komunitas Peradaban Aceh.
Tulisan ini dimuat di Sinar Harapan, 22 Juli 2008

1 Komentar

  1. nana said,

    tulisannya menarik, kehadiran partai lokal memang diharapkan dapat membawa banyak perubahan untuk pembangunan di Aceh apalagi dalam frame politik Aceh. masyarakat Aceh mengharapkan ada hal baru yang harus di terobos untuk pembaharuan ke depan tidak heran saat ini ramai masyarakat dan cso membuat diskusi-diskusi dan prediksi seperti apa partai lokal ke depannya. Yah intinya harapan sebenarnya bukan kepada partai lokalnya saja namun orang-orang didalamnya yang mengurus partai dan caleg dari partai tersebut punya kemampuan untuk melakukan perubahan besar dalam era ke depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: