Ayat-ayat Pop (Cinta)

April 29, 2008 at 3:08 pm (kumpulan artikel)


Teuku Kemal Fasya
Film Ayat-ayat Cinta (AAC) telah menggemparkan keberadaan perfilman nasional. Kegemparan terbesar adalah rekor penonton yang fantastis, tiga juta pengunjung bioskop. Film ini memecahkan rekor film nasional sebelumnya, Ada Apa Dengan Cinta (AADC, 2002) dan rekor film box office asing, Spiderman III (2007).

Kegemparan memang tidak selalu berarti prestasi. Kualitas adalah hal lain. Salah satu yang menyebabkan film ini begitu meledak adalah keberhasilan novelnya merambah, terutama di kalangan muslim muda. Namun, bagi saya, film ini adalah cacat tersendiri bagi perfilman nasional.

Kegagalan Adaptasi Visual dan Sinematografi
Hal yang paling terasa adalah kegagalan adaptasi visual dan sinematografisnya. Adaptasi novel ke dalam film bukan hanya memindahkan ide cerita, tetapi yang lebih penting, transformasi bahasa sastra-tulis ke visual-filmis. Hal ini dituntut kreativitas yang lebih tinggi, bukan hanya menerjemahkan skenario, tetapi kemampuan memindahkan semangat (zeit) karakter cerita ke layar lebar.

Beberapa sutradara berhasil menerjemahkan novel tanpa cacat berarti. Film Gone With the Wind, Doctor Zhivago, Romeo and Juliet, Legend of the Fall, Da Vinci Code, untuk menyebut beberapa, adalah film-film yang berhasil mengadaptasi novel dan memenangkan anugerah bergengsi seperti Oscar dan Cannes. Film Da Vinci Code, walaupun disebut tidak sedahsyat novelnya, tetap memberikan kesegaran dan imajinasi bagi penonton, terutama bagi penonton pemula yang tidak begitu mendalami sejarah Kristiani. Ada aspek suspensi yang dibiarkan meledak beberapa adegan. Novel Romeo and Juliet telah beberapa kali diadaptasi dalam film. Aspek kebaruan dan kekinian adalah cita-cita yang diambil sang sutradara, termasuk mengangkat versi kontemporer Romeo dalam diri Leonardo de Caprio.
Problem yang juga menyakitkan bagi mata penonton AAC adalah ketika alur cerita yang dijahit dalam film harus tercerai-berai demi hadirnya sebuah film yang padat dari sisi durasi. Hal ini tentu saja mengganggu intimitas penonton dalam menikmati setiap adegan. Adegan tidak terekat dalam sebuah penanda yang bersinergi sebagai sebuah plot cerita, tetapi dipaksakan, dengan mencomot sisi awal, tengah, dan akhir novel.

Satu contoh, film ini gagal memperlihatkan interaksi Fahri dengan keempat perempuan yang berhubungan dengan dirinya, kecuali Maria dan Aisha. Yang lain hanya diperlihatkan sebagai tempelan, tidak menunjukkan tanda mengapa Fahri harus memilih mereka sebagai istri.

Kegagalan ini ditambah dengan adegan flashback yang sama sekali tidak terdapat di awal film, seperti ketika Fahri menemani Maria yang telah koma karena memendam cinta yang tak sampai kepadanya (sangat mendayu-dayu). Saat itu Fahri mengenang kembali perjumpaan-perjumpaan awalnya dengan perempuan Kristen Koptik ini. Penonton sama sekali tidak merasa keterenyuhan ketika ia harus menikahi perempuan sakit ini.

Beberapa adegan stereotipe juga muncul dengan dialog yang sangat mentah dan menggurui. Seperti ketika Fahri bertengkar dengan seorang lelaki muslim di dalam bis, karena mempersilakan dua bule kafir untuk duduk. Atau ketika ia dipenjara dan seseorang napi berujar, “Allah sedang berbicara kepadamu melalui fitnah ini. Ia ingin berbicara kepadamu agar kau tidak terlalu sombong!” Darimana ia tahu Fahri sedang difitnah, dan bagaimana bisa menuduh Fahri sombong, padahal seluruh tubuh film tidak satu pun menunjuk ke arah sana?

Perwatakan para tokoh juga terlihat sangat payah. Dari seluruh penokohan, hanya Maria (Carissa Puteri) yang memiliki kemampuan akting yang agak baik. Selebihnya parade aktor dan artis cantik. Fahri (Fedi Nuril) bahkan tidak terlihat memiliki ekspresi gestur yang meyakinkan. Beberapa adegan terlihat seperti menghapal naskah.

Tokoh protagonis dibiarkan menjadi malaikat, sebaliknya tokoh antagonis seperti psikopat liar yang menjijikkan. Persis seperti perwatakan film-film India klasik. Penikmat film tidak dianggap spectator aktif, hanya sebarisan komunitas bodoh dan pasif.

Satu-satunya jembatan permaafan, film ini harus dilihat sebagai tontonan pop demi memenuhi libido estetika pasar yang banal. Jika dalam genre film pop-kasual tempo dulu dipenuhi dengan glamoritas seks dan kekerasan, kini mainstream film nasional diganti dengan love dan horor melulu. Film ini bukan kisah tentang Islam dan Mesir, tetapi hanya cerita cinta picisan, untuk remaja tanggung yang bergelayut dengan romantika SMA. Tidak ada aspek etnografi Mesir yang dapat dipelajari dari film ini, kecuali hanya cecaran stereotipikal yang sudah terlihat basi. Yang paling menyedihkan, film ini mencomot ilustrasi musik film asing, Legend of the Fall (1994) hingga beberapa kali. Layak dipertanyakan orisinalitas dan kreativitas eksplorasi musikalnya. Terakhir, ada aspek pedagogi yang seharusnya tidak diangkat : poligami, karena sangat minim polemik dan argumentasi. Satu-satunya yang menyenangkan adalah ilustrasi shalawat Emha Ainun Nadjib dan senandung Rossa.

Hiburan atau Signifikansi Sosial-Politik?
Fenomena film AAC, kembali menyeruakkan polemik tentang tujuan memproduksi nasional, apakah menghasilkan film-film yang sehat dan kritis atau merancang tontonan yang hanya meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mempertimbangkan pasar. Film AAC telah berhasil menjadi sebuah industri perfilman yang menjanjikan keuntungan, tetapi tidak menawarkan kecerdasan estetik dari pendalaman situasi sosio-politik-kultural tertentu dan mempertanyakan ulang aneka nilai sosial.

Film-film cerdas sekaligus jenaka, seperti Arisan, Berbagi Suami, dan Nagabonar Jadi 2 telah menjadi eksemplar bagus, bahwa film tetap bisa berjaya tanpa harus berisi cinta-cintaan melulu. Film-film etnografis seperti karya-karya Garin Nugroho dan Denias juga menjadi contoh bahwa aspek lokalitas dan keindonesiaan yang kaya raya etnik dan budaya adalah lumbung cerita yang masih kurang digarap oleh sineas muda.

Mungkin penyebab terdongkraknya film ini karena pengaruh tokoh-tokoh besar yang menjadi pengiklan. Peran Din Syamsuddin sebagai Ketua Muhammadiyah dan Presiden SBY yang menonton dan membuat “iklan” tentang film ini telah menyebabkan mob (kerumuman) mengikuti saja tanpa perlu berpikir. Peran kritikus film yang agak sepi untuk mengapresiasi AAC telah menyebabkan ia lewat screening kualitas. Hal yang tidak fair jika harus mengingat pada tahun silam film Ekskul diboikot karena dianggap film rendah mutu.

Tantangan ini ada di tangan kita untuk menilai nasib film anak negeri secara jujur dan objektif di perulangan abad kebangkitan nasional.

Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.
Tulisan ini dimuat di Media Indonesia, 17 April 2008

3 Komentar

  1. arif said,

    1. Simak dulu kisah pembuatan AAC dari blog sutradaranya (cari sendiri di internet)
    2. Novel adalah novel, imaginasi ribuan pembacanya yang liar masak mau dipaksakan ada dalam satu film lepas.
    3. Film adalah film, akan lain ceritanya jika film ini berjudul beda dg novelnya; misalnya cukup ditulis “diadaptasi dari novel AAC”.
    4. Ekspektasi masyarakat kita sebenarnya sederhana, hanya para sarjana saja yg pingin macam2.
    5. Mengatakan “kegemparan memang tidak selalu berarti prestasi” justru menuduh penonton bodoh krn mau2nya ke bioskop demi AAC.
    6. Estetika? perhatikan sudut pengambilan gambar, background yg blur saat fokus pd aktor, landscape, arsitektur, pernik2 etnik, dll
    7. Perhatikan poster film: wanita bercadar di film ini adalah manusia biasa, apa adanya. Ini dekonstruksi image terhadap sesuatu yg ‘aneh’ dan ‘asing’.
    8. Sadari bahwa penonton adalah muslim, secara kultural dan teology sekaligus!
    9. sebagai antropolog, mestinya tidak memandang film sebagai film, melainkan sbg ‘sesuatu’ yg memberi pengaruh pada dinamika manusia dlm mewarnai peradabannya.
    10. sebagai kritikus film, kritik film di atas oke bangeeeeet!
    11. Ha….ha…ha….

  2. isanova said,

    mas teuku apakah anda pernah membuat sebuah film? Apakah anda tahu betap sulitnya membuat sebuah film? Apakah anda merasa sebagai seorang ahli antropologi lantas juga merasa sebagai ahli film?
    Hahaha buat saya anda adalah orang yang terjebak dalam dunia realita. Saya sendiri jua begitu, tapi apa salahnya kita membayangkan sesuatu yang ideal?
    Film ini tuh diluar segala kekurangan tehnis yang anda jabarkan diatas, hanya ingin memberi gambaran bahwa :
    1. Islam tidak identik dengan terorisme dan kekerasan
    2. Poligami bisa menjadi jalan keluar jika saja kita mau memahami esensinya
    3. Cinta kepada sesama manusia harus didasarkan atas Cinta kepada Tuhan.
    Coba mas teuku renungi hal-hal tersebut, mungkin dari sebelum nonton film ini mas teuku sudah underestimated duluan sama film ini, jadi tidak lagi mampu menangkap pesan yang baik bagi dinamika masyarakat kita sendiri.

  3. TKF said,

    saya bahkan berharap apa yang saya dengar dari kawan-kawan tidak benar, dan saya berharap dapat melihat sebuah hiburan kalau bukan sebuah pesan….tapi apa lacur?
    Film yang tidak sengaja saya tonton ini tidak memberikan dua hal yang saya katakan tadi…memberikan pesan estetik enggak, kepuasaan sinematografik enggak, karakter tokoh tanggung, dan yang paling menyedihkan, dia juga tidak menghibur…
    maafkan saya yang tidak bisa memuji film ini,
    bahkan lebih bagus film horornya hanung…
    hmm
    semoga Allah mengampuni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: