Indonesia-Somalia, Sama Saja!

Maret 8, 2008 at 1:05 am (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

desc.jpg

Teuku Kemal Fasya

Sedikit negara yang bisa disebut terburuk. Salah satunya adalah Somalia . Negara yang terletak di Afrika timur ini termasuk negara gagal (failure state) dalam konteks modern.

Bagaimana tidak, dengan jumlah penduduk sekitar sembilan juta jiwa, negara ini tidak tidak memiliki pemerintahan yang efektif. Mereka tidak memiliki mata uang nasional. Pemerintah yang berkuasa adalah kekuasaan transisi yang hanya menguasai ibukota Mogadishu . Waktu membeku tak berdentang dalam krisis. Sejak diktator Mohamed Siad Barre dijatuhkan oposisi tahun 1991, pemerintahan setelahnya tidak pernah stabil.

Situasi makin sulit karena campur tangan Amerika dalam menentukan arah kebijakan nasional di negeri yang berpenduduk 95 persen muslim ini. Arogansi Amerika yang paling telanjang adalah ketika pasukan paman Sam dan sekutu menyerbu kelompok Farah Aidit pada 3 Oktober 1993. Kekejian perang yang lebih mirip pembantaian itu menewaskan 1500 hingga 2000 milisi dan masyarakat sipil, dan melukai 4000 lainnya. Pasukan Amerika yang tewas hanya 18 orang.

Dalam buku Black Hawk Down : A Story of Modern War (1999) – ditulis Mark Bowden dan difilmkan oleh Ridley Scott (2002) – perang ini sebagai pembebasan Somalia dari kelompok pemberontak. Sikap pasukan Amerika menurutnya telah benar dengan menembaki pagar hidup yang melindungi pemimpin pemberontak dari serbuan senapan mesin. Dalam catatan post-colonial, kisah ini terekam sebagai wujud imperalisme Amerika dengan tafsir tunggalnya. Penulis sendiri menonton film ini dengan perasaan ngilu.

Bukan itu saja, Somalia dikenal sebagai negara termiskin di Afrika. Satu dari 90 penduduknya berada dalam situasi kelaparan akut. Akhir 2007 menurut laporan Unicef ada 14 ribu anak-anak Somalia yang terancam meninggal karena kelaparan dan 400 ribu penduduk memilih kehidupan yang lebih mengenyangkan di negara tetangga, Kenya dan Ethiopia.

Antropologi Kemiskinan
Apa yang terbaca dari berita kematian Basse, seorang perempuan hamil dan anaknya di Makassar, mengingatkan kita akan kisah Somalia . Sang ibu dan anak meninggal setelah tiga hari menahan lapar. Bayi yang berumur tujuh bulan di kandungannya pun ikut tewas (Media Indonesia, 2/3).

Aparat pemerintah mulai menyanggah. Keluarga miskin ini tidak mendapat bantuan raskin karena tidak terdaftar sebagai warga. Sang lurah berkilah Basse tidak pernah mengeluh tentang masalahnya. Kisah pun mulai dipelintir pada masalah pribadi suami yang ringan tangan dan jarang memberikan uang pada istrinya.

Ada sekian alasan yang bisa digunakan pemerintah untuk menyangkal kematian warga karena kelaparan. Namun dalam kasus istri Basse, statistik menjadi tidak penting lagi.

Dalam ranah antropologi, dikenal sebuah pendekatan baru yang disebut Antropologi Kemiskinan (Anthropology of Poverty). Kajian ini dikembangkan dari Antropologi Perkotaan. Basis epistimologisnya tidak berangkat dari dalil statistik kemiskinan sebagai bukti ilmiah pertama yang perlu diajukan, sebagaimana layaknya Sosiologi Perkotaan atau Ekonomi Pembangunan.

Kemiskinan bukanlah tentang statistik, tetapi realitas yang perlu didekati dan dipahami melalui “mata pengalaman orang lain”, yaitu orang miskin itu sendiri. Menurut Vijay Prashad, antropolog lulusan University of Chicago, yang mengembangkan kajian Antropologi Kemiskinan, perlu narasi yang berempati pada orang miskin untuk mengetahui kemiskinan.

Persoalan kemiskinan sangat erat hubungannya dengan sikap budaya masyarakat perkotaan. Seseorang menjadi miskin bukan hanya masalah mental atau tiadanya kesempatan untuk sejahtera, tetapi perspektif masyarakat yang menyisihkan dan memiskinkan orang lain. Hal ini, menurut Prashad, sangat terkait dengan perubahan budaya global, yang telah menjadikan “ kota ” sebagai gantungan harapan melalui kompetisi bebas. Kota makin bermasalah oleh adanya birokrasi negara, yaitu pemerintah, yang melegalkan budaya, bentuk dan metode kemiskinan serta menjadikannya statistik penilaian.

Kebijakan nasional membentuk regulasi yang berusaha menekan angka kemiskinan, tetapi tidak memberikan perbaikan kualitas bagi penduduk miskin negeri ini. Data kemiskinan Indonesia versi BPS per November 2007 adalah 37,2 juta jiwa, turun 2,1 juta jiwa dari tahun 2006. Data ini sempat dipertanyakan keabsahannya. Namun terlepas dari itu semua, apa artinya turun bagi sang miskin dan papa?

Budaya kemiskinan adalah perkembangan lanjutan problem pembangunan yang tersentral pada kota . Sering kita mendengar bahwa miskin kota lebih menderita dibandingkan dengan miskin pedesaan. Karena ketika seseorang miskin di “pelabuhan harapan”, berarti ia benar-benar miskin, karam, dan putus harapan, termasuk harga diri. Darwinisme sosial berlaku dalam paradigma pembangunan dan kesejahteraan sosial, bahwa yang benar-benar sehat dan kenyanglah yang menguasai dan mampu menyisihkan orang lain (survival of the fittest).

Ini yang disebut Prashad sebagai masalah penindasan budaya (oppression of culture), yang muncul dari kontestasi yang tidak seimbang antara budaya tinggi (budaya perkotaan dan yang beruntung di kota ) dengan budaya rendah (budaya pedesaan dan tidak beruntung di kota ). Problem budaya kota tidak hanya muncul di kota , tetapi juga menjadi ciri nasional yang memengaruhi budaya pembangunan nasional, dari gunung, hutan, sampai pesisir. Dengan semangat komersialisasi, kohesivitas sosial dan persaudaran menjadi hilang, berganti dengan indeks pembangunan ekonomi.

Problem kota lain yang terkait dengan kemiskinan pun makin lumrah. Seperti terbaca setiap hari di media, penggusuran pedagang kaki lima , penghancuran pemukiman kumuh, dan kriminalisasi gembel dan pengamen menjadi bagian dari strategi pengembangan kota . Kejahatan diregulasi dan berefek pada bertambahnya kelompok kalah dan tak berdaya yaitu kelompok miskin. Dalam bahasa Hannah Arendt, kemiskinan dapat mencabut status kewargaan (citizenship) seseorang dan membuatnya tidak dikenali lagi secara ekonomi dan politik.

Satu keluarga yang mati kelaparan di Makassar sudah cukup menjadi data bagi kita bahwa bangsa ini memang belum mampu bergerak jauh dalam menyelesaikan masalah kemiskinan. Seperti juga ratusan pemukiman kumuh tergusur setiap hari demi memenuhi egoisme pembangunan. Mitos kesejahteraan tidak pernah hinggap kecuali hanya bagi elite politik dan modal.

Kita tak beda dengan Somalia , yang membiarkan antropologi kemiskinan menjadi bagian identitas sosial-ekonomi. Pembiaran kemiskinan dan kelaparan hingga menyebabkan kematian adalah ibu kejahatan yang mengingkari cita-cita nasionalisme sebagai bangsa yang peduli dengan nasib seluruh anak bangsanya.

Ketua Jurusan Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.
Tulisan ini dimuat di Media Indonesia, 5 Maret 2008

6 Komentar

  1. Muhammad Imran said,

    Bangsa ini memang telat dalam segala hal…para elite tidak belajar banyak dari bencana kelaparan yang sudah terjadi belakangan…ini yang menyebabkan, dari hari ke hari makin banyak yang terkorbankan..makin banyak anak bangsa yang mati karena lapar.
    lawan pemerintah, merdekakan daerah dari sifat busuk nasionalisme kepalaran ini

  2. khazanaharham said,

    ini baru tulisan yang bagus.

  3. khazanaharham said,

    Giliran kita puji, diam aja. Memang intelektualitas kita hanya mengejar pujian kosong. Kasihan….

  4. Burman S said,

    GImana khazanah arham menilai pujian harus direspons? Aneh-aneh aja ente….Bahkan beberapa pujian harus diabaikan saja, karena yang penting adalah adalah critize…Mengkritik dengan ‘the heart of point’, bukan dengan pointless.

    Kalau dipuji bereaksi itu baru cocok dengan komentar ente.

    Boleh kenalan dengan khazanah?

  5. khazanaharham said,

    Ha…ha….Burman, salam kenal. Kalo mau tahu lebih jauh, tanya ama Tuan Kemal aja ya….I am just an ordinary gay, though.

  6. Burman S said,

    are you gay, oh come on….this is not a narrow world….
    saya sekedar pembaca rutin tulisan-tulisan saja, bukan juga siapa-siapa. beberapa kali nulis, tapi belum populer amat
    tapi, kalau keberatan, ya sudah…
    lah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: