Globalisasi Bantuan dan Jembatan Ketidakpuasaan

Maret 4, 2008 at 4:26 pm (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

Globalisasi Bantuan dan Jembatan Ketidakpuasaan
T.Kemal Fasya
Teuku Kemal Fasya

Apa yang terjadi beberapa tahun belakangan ini dalam mega rekonstruksi di Aceh sebenarnya bukan pemberian dana takziah dan kedermawanan sosial tanpa pamrih. Gerakan bantuan di Aceh dan Nias merupakan politik globalisasi bantuan kemanusiaan atau bisnis filantropi yang bekerja dalam industri-industri sosial skala besar yang minim kesejahteraan dan kemenangan bagi para korban tsunami.

Monokultur Globalisasi
Beberapa orang melihat globalisasi sebagai pengembang situasi monokultur. Ia menderap langkah dalam waktu dan lokal. ia menjadikannya ‘historical inevitability’, keniscayaan sejarah. Kita, entah di Aceh atau di Nairobi, Kenya – yang saat ini rusuh setelah Pemilu, tak akan bisa melawan globalisasi. Ibaratnya, kita sudah terdesak dan memerangkapkan diri dalam globalisasi.

Memerangkapkan diri dalam monokultur globalisasi? Benarkah globalisasi hanya memberikan satu ruang budaya? Tidakkah ada kamar ganti lain? Pernyataan seorang penggiat budaya menyebutkan bahwa dalam ruang totaliternya sekalipun, globalisasi masih memberikan nafas demokratis yang bisa dimanfaatkan secara tepat (St. Sunardi, 2003).

Pernyataan ini tentu saja menyenangkan bagi orang yang telah cukup puas bekerja di lembaga-lembaga filantropi global. Namun sayangnya penulis belum menemukan jejak positif di Aceh. Beberapa lembaga bahkan meninggalkan jejak bad practices, sebut saja yang sangat populer di Aceh: Oxfam, International Care, atau World Vision – nama organisasi kemanusiaan yang terekam dalam catatan Michael Maren, penulis, The Road To Hell (1997), sebagai lembaga pemalsu penderitaan masyarakat di Kenya, Ethiopia, dan Somalia.

Catatan Maren cukup mengharukan. Kesetiaannya memotret realitas sosial di Afrika telah melahirkan cuplikan yang cukup berharga bagi kita. Penulis ini juga menghadapi banyak tekanan termasuk sang istri yang menceraikannya. Ia mencatat detail konspirasi dan internasionalisasi filantropi dalam masyarakat Afrika.

Kisah prahara Afrika juga terekam dalam film Blood Diamond (2006), sebuah kisah nyata tentang perang saudara di Sierra Leone. Jejaring ekonomi ternyata menjadi media ideologis yang bisa membuat semua orang saling berhubungan dan tidak mustahil saling membunuh (pemberontak, pekerja tambang, pemburu berlian swasta, pemerintah, tentara dan perusahaan berlian Amerika).

Film itu menceritakan tentang kekerasan yang terjadi di sebuah negara Afrika Barat yang berperang karena potensi berlian yang dimiliki negara miskin itu. Melihat war for diamond di Sierra Leone yang teringat di kepala penulis adalah war for gasoline di Aceh. Jika Sierra Leone berperang karena tambang berliannya, Aceh berdarah-darah karena tambang gasnya. Jika saja Exxon (Mobil Oil) tidak menemukan gas di Aceh, jika saja Aceh adalah Nusa Tenggara Timur, mungkin tak ada perang yang berdarah-darah. Libido ekonomi begitu menggairahkan korporasi global, dan terbukti tidak pernah menciptakan kesejahteraan.

Sisi ini memperlihatkan buruk muka globalisasi. Ia tak memberikan bekas lain yang bisa disebut sebagai ‘demokratisasi kebudayaan dan emansipasi bagi masyarakat lokal’ karena globalisasi hanya mesin-mesin ideologi yang memengaruhi sistem pasar dan modal, dan bukan gerai budayanya. Gerak mesin ekonomi berbicara dalam hukum efesiensi dan ketepat-gunaan nilai tambah (value surplus), dan bukan pada apropriasi (ketepat-pilihan). Inilah yang merisaukan. Dunia-isasi mengarah pada upaya ‘anti-demokrasi’ karena totaliterisme pasar dan modal atau ekspansi negara maju ke negara berkembang. Kekuatan filantropi menjadi industrialisasi bisnis kemanusiaan tanpa audit.

Sayangnya sisi lain globalisasi, yaitu ilmu sosial kritis tidak berkembang sekuat globalisasi ekonomi. Ketika berbicara tentang konsep gerakan sosial baru (new social movement) pasti merujuk kepada pemikiran Alberto Mellucci, Herbele, Alain Touraine, Pierre Bordieu. Atau ketika kita bicara tentang pendidikan luar sekolah, serta-merta akan menemukan pikiran Paulo Freire, Ivan Illich, M. Escobar, dll.

Bagaimana gagasan yang jauh dari Yogyakarta atau Lhokseumawe itu bisa sampai dan memengaruhi kesadaran dan afeksi intelektual masyarakat lokal yang berada di Timur? Tentu saja karena adanya globalisasi pendidikan dan diseminasi pengetahuan, melalui dosen, buku, dan internet.

Pemahaman globalisasi seperti ini tidak pernah berfungsi. Yang selalu menjadi matra universal adalah sesuatu yang berasal dari mesin ekonomi global (WTO, World Bank, IMF,) dan sikap monolitik Amerika Serikat dan Eropa dalam melihat lingkungan di luar dirinya. Apa yang dimaksud dengan globalisasi sebenarnya bahasa lain dari Amerikanisasi dan Westernisasi!

Dalam konteks Aceh kita bisa melihat globalisasi apa yang dipercakapkan? Apakah mereka membongkar secara mendalam makna rekonstruksi yang berangkat dari filsafat eksistensi (Heideggerian)? Atau mereka membedah konsep partisipasi dan pembebasan (de pedagogo de la libertad) Freirian, dan mengambil inti kebaikan dari prinsip bekerja kolektif dalam membangun Aceh? Sudahkan pihak donor bersikap partisipatif dalam membangun Aceh? Apakah bantuan telah menjadi energi siklus dan keberkahan?

Siapa Memusuhi Siapa?
Dalam konteks ini patut dilihat siapa sebenarnya yang memusuhi globalisasi. Hanya sedikit dari peran globalisasi yang patut dimusuhi – mengutip sosiolog Ralf Dahendorf – proses deteritorialisasi yang memunculkan masalah martabat atas wilayah. Dilemanya adalah ketika kekuasaan lokal tidak mampu lagi meladeni dahsyatnya motif pasar dan kerakusannya akan energi (uang, alam, budaya, pengetahuan lokal). Globalisasi bukan cara yang baik untuk melepaskan diri dari jerat otoriterisme, kebodohan, dan kepicikan lokal, karena ia telah menjelma menjadi totaliterisme dunia dan pembodohan global.

Menarik alasan yang dikemukakan Samir Amin, seorang tokoh pedagogi post-kolonial, bahwa di dalam dunia kapitalisme global dibutuhkan tak hanya aliansi global, tetapi juga kontak budaya dan politik melalui dialog kritis yang emansipatif dalam memperbaharui sistem dunia. Karena, sebenarnya yang diperlukan adalah menghadapi globalisasi agar tidak menjelma menjadi tindakan barbarian, pemusnahan semua bangsa, dan mengobarkan lautan kebencian dan kesesatan semesta.

Teuku Kemal Fasya, Ketua Komunitas Peradaban Aceh (KPA).
Dimuat di Jurnal Nasional , 4 Maret 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: