Demokrasi Liberal dan Konservatif

Oktober 5, 2007 at 3:48 pm (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

Demokrasi Liberal dan Konservatif
Teuku Kemal Fasya

Ada berita dari dua kota di negara bagian Louisiana , Amerika Serikat, yang melarang remaja putri memakai pakaian yang memperlihatkan celana dalam mereka. Larangan tersebut saat ini telah menjadi peraturan kota , muncul karena keresahan masyarakat akan model pakaian yang semakin kurang etis dan memancing kejahatan seksual.

Menurut Washington Post, kebijakan ini dengan mudah diloloskan tanpa mendapat protes yang berarti. Louis Marshall, konselor Kota Alexandria, tokoh dibalik hadirnya kebijakan tersebut adalah sosok konservatif yang cerdas. Ia menggunakan logika-logika demokrasi dalam perdebatan di senat untuk mendukung kebijakan ini.

Pandangannya yang lugas dan kuat menunjukkan Louis Marshall memang bukan sekedar konservatif, tetapi konservatif yang terdidik dan visioner. Puncuk argumentasinya dijadikan konsideran peraturan. Sampai saat ini kebijakan ini mampu mengubah perilaku berpakaian remaja yang slebor dan tak sedap dipandang mata. Sebuah pengalaman unik dari negara yang dimitoskan sebagai guru demokrasi (liberal)

Indonesia Yang Terlalu Liberal
Hal seperti ini tentu tak akan lahir di negara kita yang lebih terpengaruh dengan gaya liberal. Jika kebijakan ini hadir di sini, tentu dianggap sebagai intervensi ranah privat dan tidak substansial sebagai sebuah kebijakan publik (public policy). Kebijakan seperti ini pasti diserang dengan stigma kolot, anti-pluralisme, diskriminasi terhadap perempuan, berpandangan ke belakang, dsb.

Contoh yang bisa menyegarkan kembali – untuk mengontraskan dengan pengalaman di AS- adalah pernyataan Presiden SBY di awal kepemimpinannya agar televisi kita jangan terlalu banyak mengumbar pusar perempuan. Pandangan SBY saat itu dengan gencar diserang oleh kelompok feminis sebagai wujud pan-opticon patriarkhal (pengontrolan perilaku perempuan melalui mata laki-laki). Seluruh jurus epistimologi demokrasi liberal dan kebebasan berekspresi dilancarkan dan membuat SBY mati kutu, tak melanjutkan wacananya itu.

Jika melihat sejarah demokrasi Indonesia , pandangan yang cenderung liberal memang menandai bangkitnya demokrasi di negeri ini. Liberalisme dianggap sebagai sebuah pandangan yang lebih unggul dibandingkan konservatif. Wacana bahwa demokrasi adalah kebebasan ekspresi dan minimalisasi wacana buatan negara – telah dibelokkan kesimpulannya ke arah liberalisme. Apa yang dianggap sebagai keperluan publik (public necessity) harus berangkat dari subjetivisme individual yang bebas. Liberalisme akhirnya bertunas dan berbuah menjadi demokrasi Indonesia .

Inilah yang kemudian menjadi interior dalam mengembangkan model demokrasi – sejak masa Soekarno – yang didasarkan pada otonomi individu dalam memaknai ruang publik (public sphere). Salah satu referensi yang sangat populer adalah pandangan dari seorang neo-modernis Jerman, Jürgen Habermas, bahwa kepublikan (pulicity, publizität) adalah bentuk kebangkitan sejarah individu dan kelompok masyarakat untuk membentuk opini publik dan memberikan tanggapan langsung terhadap hal-hal yang memengaruhi praktik dan kebijakan politik (B. Hari Juliawan : 2004).

Bila merunut alur, pandangan ini sedikit banyak jelas dipengaruhi oleh gelombang demokratisasi abad 18 di Eropa (Perancis) dan berlangsung terus di era transisi kapitalisme industrial menuju demokrasi liberal abad 19. Tentu ada banyak alasan mengapa gelombang ini terjadi di Eropa dan mulus sebagai novum idea kebaikan masyarakat (bonum commune). Feodalisme gereja dan teokratisme, kemudian berlanjut dengan sejarah kelam nazisme dan totaliterisme telah menyebabkan model demokrasi liberal dianggap lebih ideal dibandingkan konservatif, karena ia menjadi jalan untuk “menjinakkan” ruang publik agar lebih emansipatif.

Namun yang tidak disadari, gerakan ini sendiri juga telah mengalami banyak perubahan internal, di Eropa ataupun Amerika. Pasca gerakan politik mahasiswa Eropa 1968. liberalisme yang dibayangkan awal sebagai senjata melawan fasisme telah mulai direorientasi karena mulai kehilangan ruh.

Liberalisme bahkan mulai ditinggalkan karena dianggap mewakili sikap feodalisme baru. Maka kecenderungan Eropa sekarang untuk lebih konservatif dalam banyak hal bisa dimengerti. Munculnya gerakan politik hijau berakar pada konservatisme dalam melawan neo-liberalisme yang cenderung merusak. Dalam kasus perang Irak, Jerman dan Perancis memperlihatkan perlawananya atas arogansi Amerika. Pandangan ini disimbolkan sebagai sikap demokrasi konservatif.

Sayangnya, para terdidik Indonesia – termasuk kelompok feminis dan pro-liberal- baru khatam dalam model demokrasi awal di Eropa dan belum lagi menyentuh perubahan wacana demokrasi mutakhir dan lebih realistis.

Liberal atau Konservatif?
Namun, jangan naif juga melihat permasalahan demokrasi Indonesia dengan memperbandingkan dengan Amerika dalam kasus celdam itu. Yang terjadi di sana adalah proses perjalanan panjang dalam menentukan pilihan. Demokrasi intinya deliberasi, berjuang dengan kesadaran, kedamaian, dan kerela-hatian (voluntary works) dalam membuat banyak pilihan.

Apa yang membedakan antara kasus di negara bagian tersebut dengan di Indonesia? Di sana kelompok konservatif memiliki reason, kekuatan argumentasi dalam memajukan sebuah ide atau pendapat, sehingga tidak selalu kelompok liberal menang. Di Indonesia, kelompok konservatif hampir selalu kalah dan tidak memiliki kemampuan art of diplomatic yang cukup mengagumkan, sehingga dengan mudah dikalahkan oleh ide-ide, bahkan pohon epistimologis yang dimajukan oleh kelompok liberal. Sayangnya, kelompok konservatif – di antaranya adalah kelompok militan Islam – lebih memakai cara-cara kekerasan dalam mengekspresikan pendapat, dan tidak melalui ide atau wacana yang reasonable dan tangguh. Kelompok konservatif di sini tidak tangguh dalam berwacana.

Kelemahan lainnya dari kelompok konservatif (konservatif tidak selalu berarti kolot : kelompok yang rindu dengan mempertahankan nilai-nilai lama yang dianggap masih baik termasuk di dalamnya, asal kata dari concervatio : memelihara, murabbi) adalah cepat putus asa, manja, dan bernafas pendek. Ketika satu ide mendapat hantaman dari kelompok liberal-progresif, langsung takluk, keteteran, dan tak sanggup menyusun agenda untuk melawan balik.

Kasus yang terjadi di nasional ( Jakarta ) ternyata berkebalikan dengan di Aceh. Dalam konteks Syariat Islam, wacana yang bergulir lebih dominan dari kelompok konservatif. Kelompok liberal kurang kreatif dalam memajukan ide, merebut simpati, dan memengaruhi qanun (perda). Perdebatan publik – melalui media atau wacana praksis, kelompok liberal (terutama para akademisi kampus dan aktivis NGO) hampir selalu kalah berebut ruang publik dengan kelompok konservatif.

Di sini membuktikan bahwa liberal atau konservatif adalah pilihan yang disesuaikan dengan konteks, kultur, dan lokalitas. Yang terpenting diingat, liberal dan konservatif akan selalu bertarung selamanya, dalam ide dan strategi.

Sesungguhnya itulah demokrasi, penuh keremeh-temehan dan flatus vocis. Seperti kata Thomas Jefferson, demokrasi adalah kekuasaan dari kesempatan kerumunan (crowd) untuk menentukan. Pertanyaannya, bagaimana keremeh-temehan dan kerumunan itu tidak menjadi sampah, tetapi menjadi pupuk tanaman yang menyuburkan. Untuk konteks Indonesia , bagaimana kerumunan bisa diberdayakan dalam melihat pilihan-pilihan. tentu saja dengan argumentasi dan kesehatan berfikir melalui pendidikan dan penyadaran.

Teuku Kemal Fasya, Komunitas Peradaban Aceh (KPA).
Telah dimuat di Media Indonesia tanggal 2 Oktober 2007.

7 Komentar

  1. yanto ssssssupriyanto said,

    good..

  2. Pito said,

    mungkin yang diperlukan sekarang ini bukan pada model liberal atau konservatif, tapi pada nilai substansial perubahan dan pengembangan masyarakat..
    begitu…bravo

  3. rolenz said,

    indonesia selalu menagis coi

  4. jhon said,

    good coy

  5. rheys myesad said,

    luengkap banget……..

    siiiiiiippppppplah!!!!!!!!!!!!!

  6. bella said,

    thanks jha ya buat your help…………

  7. dona said,

    lengkap ban………………get sich …………………………………………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: