NGO Asing dan Kesesatan Global

Juli 24, 2007 at 9:58 am (kumpulan artikel)

NGO Asing dan Kesesatan Global
Teuku Kemal Fasya

Di samping heboh tentang partai politik lokal, berita di Aceh sedang ramai oleh perginya satu persatu lembaga donor dan internasional yang menangani tsunami. Saat ini telah lebih 40 dari 468 lembaga keluar akibat habisnya masa “dinas” mereka.

Ironisnya, usainya masa dinas tidak diikuti dengan selesainya tanggung jawab moral kedermawanan sosial atas korban tsunami. Banyak di antara mereka meninggalkan hulu ledak kemanusiaan dan kultural baru. Di antara yang sangat mencolok adalah meningkatnya angka kemiskinan dan minimnya keterlibatan masyarakat lokal dalam program rekonstruksi.

Namun kritik publik hanya memiliki kanal pada Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR), sebuah super body yang dibentuk pemerintah untuk membangun koordinasi, memperpendek rentang birokrasi, serta melakukan monitoring seluruh pekerjaan rekonstruksi pasca-tsunami. Padahal tanggung jawab NGO internasional dan UN Agency tak kalah penting dalam “membangun kembali” Aceh. Kritik terhadap lembaga asing seperti kurang mendapatkan porsi yang cukup.

Ketergantungan dan Kemewahan
Mengapa kritik atas kinerja NGO internasional dan lembaga PBB di Aceh jarang mendapatkan tempat yang setimpal seperti kritik atas kegagalan BRR? Yang paling mengemuka dari jawaban itu adalah lembaga tersebut “swasta” yang tidak pantas menanggung beban kritik seperti lembaga pemerintah. Padahal jika dilihat, efek kerusakan sampingan (collateral damage) yang diakibatkan lembaga asing ini juga nyata karena mereka memiliki kekuatan finansial yang besar.

NGO internasional memang memiliki kemampuan untuk memobilisasi bantuan skala besar, tapi tak cukup berhasil mengimplementasikan program menurut teknik sosio-kultural yang mendekatkan program dengan kebutuhan masyarakat. Contoh, banyak NGO membangun rumah dengan visi arsitektur yang ganjil, dengan model ketahanan rumah anti-gempa ala Kobe (Jepang) dan Bam (Iran). Padahal rumah-rumah di Aceh hancur bukan oleh gempa, tetapi tsunami. Pasca tsunami, makin sulit ditemukan rumah panggung tradisional yang berkarakter pesisir karena visi pembangunan yang mengikuti selera pendonor.

Kegagalan sejumlah program pemberdayaan ekonomi juga demikian. Banyak NGO internasional bekerja berdasarkan hasil assessment yang dibuat oleh konsultan non-lokal, dengan akurasi dan resapan aspirasi native yang lemah. Akhirnya program dijalankan bukan berdasarkan kebutuhan fundamental tetapi keinginan abstrak masyarakat.

Perilaku aktivis NGO juga menggelikan. Tak sedikit aktivis NGO memamerkan kemewahan hidup dan fasilitas sebagai wujud eksistensinya di Aceh. Pelan dan pasti, ketimpangan antara pihak pendonor dan masyarakat semakin kontras. Mimicry bantuan berdiri di atas dasar materialisme, hedonisme, dan konsumsi khas globalisasi

Perusahaan sosial itu lebih senang mengelola anggaran sesuai mekanisme sendiri, dengan kesadaran dan pengetahuan impor yang dibawa dari tempat asal. Sensibilitas NGO internasional menjadi lemah. Komitmen sosial bekerja berganti rupa menjadi rutinitas bisnis yang berorientasi ambil untung.

Ini pula yang menjelaskan mengapa banyak international charity di Aceh tersangkut korupsi, kolusi proyek, atau mark up. Kasus yang menimpa Oxfam (mark up) , Save The Children (kolusi dengan kontraktor dan pembangunan tak sesuai bestek), Australia Care (program berjalan lambat dan tak sesuai komitmen) adalah sedikit bad practice NGO internasional yang kurang serius diungkap dalam ruang publik. Program kemanusiaan yang terbisniskan ini pula menjelaskan mengapa World Bank “terpaksa” mendirikan kantor perwakilan di Banda Aceh; indikator lalu-lintas uang berjalan sangat serius Aceh.

Pembenahan dan Regulasi
Perilaku NGO internasional yang telah mengubah tidak hanya struktur tetapi juga kultur masyarakat Aceh, harus disikapi serius pemerintah. Efek kerusakan yang ditimbulkan program pembangunan dan pengembangan masyarakat telah mengarah kepada hancurnya identitas lokal, hilangnya daya ingat sosial masyarakat, dan memblenya karakter juang masyarakat korban.

Peran pemerintah seharusnya berada di garda depan dalam mengonsolidasikan kekuatan modal yang bermaharaja di Aceh saat ini melalui batasan dan regulasi. Modal tidak dapat dibiarkan tanpa adanya kebijakan. Akuisisi peran sebenarnya dapat dilakukan oleh pemerintah daerah yang cukup kuat legitimasinya dari Pilkada lalu. Restriksi dapat dilakukan dengan sejumlah warning dan kode etik pembangunan yang boleh dan tidak dilakukan oleh lembaga asing atau swasta.

Pemerintah daerah sebenarnya dapat menjadi mata dan tangan pemerintah pusat. Karena itu pemda NAD harus mengakuisisi dan mengambil posisi dari skema phasing out BRR ke depan. Peran BRR secara eksistensial sebenarnya telah melemah sejalan dengan hadirnya pemerintahan baru di Aceh.

Martabat bangsa memang dipertaruhkan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini, apalagi ketika semua NGO akan pergi dan kesunyian berbicara. Dialektika filantropi negatif jika tidak diantisipasi akan mengancam integritas Aceh dan Indonesia bersamaan. McDonaldisasi bantuan kemanusiaan selalu beresiko kepada masyarakat dan simbol-simbol penopangnya.

Teuku Kemal Fasya, Ketua Jurusan Antropologi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.
Dimuat di Jurnal Nasional, 21 Juli 2007

4 Komentar

  1. SON [PAATH said,

    saya ingin mengajak NGO untuk wewujudkan konsep2 green dari saya tanks

  2. fickry said,

    makasih mas artikelnya..saya pakai utk referensi skripsi..

    tx

  3. ajeng said,

    terima kasih saya juga pakai untuk referansi skripsi , mengangkat masalah program2 NGO asing yang jarang sustainable…

  4. Evaristo.Daconceicao said,

    hayyyy apa kita lakukan di timor leste

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: