Yogyakarta, Lingkungan Yang Tidak Lagi Hidup

Juni 5, 2007 at 7:20 am (kumpulan artikel)

Yogyakarta, Lingkungan Yang Tidak Lagi Hidup

Teuku Kemal Fasya

Untuk kesekian kalinya Yogyakarta dirudung masalah lingkungan. Setelah pembangunan serempak beberapa mal dan plaza yang mengepung kota, krisis air akibat ulah PDAM Umbul Wadon, dan kekeringan yang melanda daerah lereng Merapi karena penebangan hutan dan pengerukan pasir yang dilakukan secara eksesif, kini yang terbaru, kasus penebangan pohon jalan yang terjadi di sepanjang jalur Selokan Mataram, dari sejak Perempatan Barek (UGM) hingga Fakultas Teknik (Kompas, 4 /11).

Motif proyek pelebaran jalan ini hampir sama dengan pembangunan jalan di daerah Klebengan di depan Fakultas Peternakan dan Kedokteran Hewan UGM beberapa bulan lalu. Puluhan Pohon Akasia, Sepatudia, Cemara, Belinjo, Damar, dll harus menjadi korban demi sebuah proyek pembangunan. Daerah Klebengan telah menjadi saksi atas rapuhnya konsep pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan itu. Hawa panas dan berdebu adalah pengalaman khusus ketika melewati jalan ini. Tidak ada lagi rerimbunan pohon tempat bagi setiap pejalan kaki berbeka-beka sekedar sejenak melepaskan kelelahan. Kios-kios kaki lima telah lama terusir dari daerah ini. Hampir semua pejalan kaki atau pengendara bermotor selalu ingin cepat berlalu dari jalan yang terpanggang matahari dengan pikiran yang kusut-masai.

Anehnya, hampir seluruh protes dari masyarakat dan aktivis LSM tidak pernah direspons secara serius. Suara kelompok peduli lingkungan seperti koor yang terdengar sayup-sayup. Kebijakan pembangunan telah memilih nalar tertentu yang berpusat kepada kepentingan profit dan selalu beroposisi dengan nalar konservasi lingkungan. Setiap keuntungan dihitung secara kumulatif dalam angka-angka dan tabulasi finansial. Adapun tindakan pelestarian lingkungan dianggap gagal memberikan jawaban tuntas bagi keuntungan ekonomis, sebab perhitungannya yang abstrak dan tidak langsung memberikan kompensasi surplus kepada perorangan atau lembaga. Jika dilihat secara jernih, pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan itu di dalam dirinya sudah menganut prinsip destruksi terhadap kepentingan dan kenyamanan ruang publik, padahal sejatinya diatur oleh undang-undang negara.

Gerakan Sadar Lingkungan

Permasalahan lingkungan bukanlah isu eksklusif. Ia telah menjadi wacana sosial sejak dekade 70-an. Gagasan ini secara umum mengkritik efek pembangunan dan teknologi yang berjalan sepenuh-penuhnya di atas koridor eksploitasi tanpa refleksi atas kebugaran lingkungan. Dalam wacana globalisasi, misi eksploitasi digerakkan melalui retorika kemajuan (progressiveness) dan modernisasi. Akan tetapi, gerakan lingkungan hidup (environmental movement) melihat kepentingan pembangunan tidak akan pernah menyentuh hingga ke level kesejahteraan (welfare society) dan pemerataan, sebab yang diuntungkan hanya lingkaran para pemilik modal, komunitas borjuis/berakses ekonomi, militer, dan negara sebagai organisasi kekuasaan penopang kapitalisme global.

Yang paling ironis, pembangunan dan modernisasi memberi dampak langsung yang merugikan kepada keselamatan lingkungan. Seperti disebutkan Anthony Giddens dalam Consequences of Modernity (1991), dunia modern telah terjebak ke dalam berbagai risiko yang diciptakan sendiri. Risiko itu berupa mal-praktik teknologi dan industrialisasi yang menggantikan segala takdir alamiah (god’s-hand destiny) tentang bencana.

Bagi Giddens, masalah keracunan, polusi, degradasi kualitas air dan udara, atau bencana alam telah membuat manusia tercekam oleh rasa takut yang tidak berkesudahan. Namun anehnya, tindakan yang dilakukan bukan mengurai masalah dari kesalahan penggunaan teknologi dan esensi pembangunan, tetapi malah membuat mitos baru terkait dengan perilaku-perilaku intensif yang makin tergantung kepada teknologi dan industri. Industrialisasi, seperti dikatakan Th. W. Adorno dan M. Horkheimer telah mendehumanisasi manusia dari kemungkinan hidup berdasarkan esensi keseimbangan lingkungan (The Culture Industry : Enlightenment as Mass Deception, 1979 : 21).

Kembali ke potret kota Yogyakarta, keinginan agar ditatap sebagai kota modern telah menyebabkan arah pendesainan kota kehilangan visi lingkungan dan humanisme. Dehumanisme berkarakter pada maraknya kasus penggusuran dan pengusiran komunitas ekonomi pra-sejahtera atas nama pembangunan. Kontaminasi visi lingkungan terlihat nyata oleh sikap sewenang-wenang menebang pohon-pohon kota dan pembangunan yang tidak lulus Amdal. Lembaga pendidikan yang seharusnya lebih sensitif terhadap isu lingkungan malah berulah sebaliknya, mempertunjukkan tindakan kanibalisme di tengah-tengah perayaan kebudayaan masyarakat Yogyakarta. Kesedihan makin bertambah-tambah, karena kesaksian atas pohon cemara, mahoni, damar dll yang pernah tumbuh di sudut jalan Yogyakarta akhirnya tersaput debu dan tertinggal di foto kenangan semata.

Dalam sebuah penelitian menyebutkan, polusi yang ditimbulkan kota Yogyakarta telah menunjukkan grafik yang mulai mengkhawatirkan. Efek polutan dan cemaran CO2, SOx, CxHy, kebisingan dan partikulat debu dapat dinetralisir andai saja tumbuh sedikitnya 48.216 pohon dan tanaman besar. Pepohonan berfungsi menyaring gas-gas racun dan meredam tebaran debu serta menyerap air tanah, sehingga kita tidak perlu menghadapi masalah kekeringan setiap musim kemarau datang atau banjir ketika musim hujan menjelang.


Tindakan vandalisme ini sebenarnya berbanding terbalik dengan kampanye pemerintah daerah untuk menyelamatkan lingkungan Yogyakarta, seperti terlihat dari Deklarasi Merapi yang mengupayakan moratorium penebangan hutan oleh tiga kepala daerah tingkat II Propinsi D.I.Y sebulan yang lalu. Kontradiksi ini memunculkan pesimisme di tingkat masyarakat tentang kesungguhan pemerintah daerah (pemda) menyelamatkan tanah, air, dan udara Yogyakarta dari perusakan lingkungan.

Pemda perlu ditantang untuk tidak hanya sekedar membuat akta seremonial yang penuh basa-basi, tapi sekaligus menindaklanjutinya dengan tindakan yang lebih programatik dalam kehidupan sosial. Untuk itu perlu diproyeksikan strategi pendidikan baru dalam melihat lingkungan, bahwa ia bukan sekedar pemberian Tuhan yang Maha Pemurah, tetapi juga amanah yang perlu diwariskan untuk generasi mendatang dengan penuh tanggung jawab. Harus ada pengawasan terpadu terhadap kesehatan lingkungan dari gangguan tangan-tangan penebang dan pengembang.

Bayangkan, kita mungkin perlu menunggu 20 tahun untuk melihat tegaknya sebuah Pohon Asam atau Cemara, namun hanya butuh lima belas menit untuk menggergajinya. Makanya, perlu dipikirkan sebuah format gerakan sosial yang efektif memusuhi tindakan penebangan, sehingga orang merasa tidak leluasa melakukan tindakan ganjil itu.

Jika tindakan ini terus berulang, kita harus siap menerima takdir bahwa lingkungan hidup Yogyakarta akan menunggu tanggal kematiannya. Hanya butuh beberapa waktu untuk melihat banyak orang yang berkemampuan ekonomi menggunakan tabung oksigen, masker, dan baju pelindung dari radiasi lingkungan yang mengepung hidupnya. Mungkin bukan sekarang, tapi pasti nanti, suatu saat di Yogyakarta!

 

Teuku Kemal Fasya, Ketua Jurusan Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh, Lhok Seumawe.
Ketua Komunitas Peradaban Aceh (KPA)
 

1 Komentar

  1. rossie said,

    Salam kenal,
    Saya warga jogja yang juga ikut prihatin dengan kondisi jogja yang makin polutif, justru yang terutama polusi akibat rokok. Dimana-mana di setiap sudut jalan bukan pohon yang ditanam tapi baliho iklan rokok yang dipampang luar biasa besarnya.
    Mau gimana lagi karena itulah sekarang yang sanggup mendanai segala aktivitas dari hiburan, budaya sampai aktivitas yang terkait pendidikan.
    Tulisan-tulisan anda cukup bagus tapi perlu juga tulisan semacam ini dibaca oleh para pengambil keputusan terutama yang di jogja. Selain itu boleh juga anda sekali-kali nulis tentang maraknya iklan rokok di kota pelajar ini. Pasti lebih mengena kalau anda juga bukan seorang perokok.
    Selamat berkarya terus.
    Wassalam

    Tangapan dari Narasumber
    T.Kemal Fasya

    Rossie,
    Saya juga pernah di Jogja, sepuluh tahun lebih, S 1 di IAIN Sunan Kalijaga, S-2 Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, dan baru meninggalkan Jogja awal 2005.

    Memang menyedihkan melihat kota Jogjakarta sekarang. Bulan Juni lalu saya juga sempat berkunjung kembali ke kota yang sangat mengangenkan ini, dan sudah terlalu banyak perubahan. Polusi dan asap berkejaran dengan pertumbuhan bangunan dan mall. Mall Ambarukmo bahkan merupakan mall terbesar di Jawa Tengah dan Jogja. Bisa dibayangkan berapa ribu kubik batu, pasir, kayu yang dipersiapkan untuk sebuah sesajian kapitalisme itu. Berapa banyak bukit dan gunung yang menjadi korban?

    IAIN yang di masa saya adalah kampus yang sangat bersahaja secara infrastruktur, saat ini sudah pongah menjulang. Saya rasa makin sedikit anak-anak miskin yang bisa kuliah di kampus yang penuh cerita revolusioner itu. Dahulu kami berdiskusi di setiap emperan kampus, di bawah tangga mesjid, menggagas aksi untuk menggerogoti kekuasaan Orde baru. Bahkan di masa KKN saya di tahun 2008, kami lebih sibuk merancang parade demonstrasi hingga ke aksi sejuta umat yang menggoyang Soeharto hingga tersungkur. Saat ini cerita itu tak mungkin ada lagi. Ruang publik bagi mahasiswa sudah tidak ada yang gratis, berganti kafetaria, supermarket, dan makanan junk food yang makin tak teraih oleh mahasiswa…Jogja yang semakin mahal dan komersial.

    Dan mahasiswa tak merasa asing dengan kemewahan mall yang sebenarnya sangat bermusuhan dengan alam itu…semakin sedikit wilayah tangkapan air, dan semakin sedikit ruang bagi hutan kota. Jogja already for sale, hmmmmmm.

    Rossie, Anda berada di garda terbaru dalam melihat sejarah Jogja. Di tangan generasi kalianlah tangkupan tanggung-jawab harus bernyawa. Untuk Jogja yang makin hijau, Untuk kota budaya yang makin ramah lingkungan.

    Teuku Kemal Fasya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: