ALA-ABAS dan Distorsi Kekuasaan

Maret 28, 2008 at 1:29 am (kumpulan artikel, Teuku Kemal Corner)

T.Kemal Fasya
Teuku Kemal Fasya

Isu pemekaran provinsi Aceh menjadi ALA (Aceh Leuser Antara) dan ABAS (Aceh Barat Selatan) yang sempat menguat sebelum penanda-tanganan nota kesepahaman Helsinki, kini mulai mencuat kembali. Fokus wacananya adalah ketertinggalan masyarakat Aceh pedalaman dan pantai barat itu dari konsentrasi pembangunan “pemerintah Banda Aceh” yang dianggap lebih memperhatikan daerah konflik dan tsunami di pesisir timur.

Kini lobby kelompok pro-pemekaran telah tembus ke parlemen. Ratusan kepala desa telah malakukan tur ke parlemen dan elite-elite politik Jakarta. Komisi II DPR telah menganggap pemekaran Aceh tidak mungkin ditunda lagi. Namun Presiden SBY masih menunggu sinyal dan melihat plus-minus proyek ini. Sikap pemerintah yang menunda dan melihat berbagai kemungkinan adalah kehati-hatian yang bertanggung-jawab, termasuk melihat efeknya terhadap perdamaian yang berlangsung lebih dua tahun di Serambi Mekah ini.

Absurditas Budaya dan Sejarah
Mau tak mau, isu pemekaran ikut membangkitkan ketegangan etnik di Aceh. Sebagai provinsi, Aceh tidak hanya terdiri dari etnik tunggal. Minimal terdapat delapan etnik di dalam club-ethnic Aceh : Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Simeulue, Singkil, Aneuk Jamee, dan Kluet. Belum lagi sub-etnik. Simeulue misalnya memiliki tiga buah sub-etnik dengan pengguna bahasa terbatas. Tak lebih 20.000 ribu jiwa masing-masingnya.

Dari kedelapan etnik tersebut, etnik Aceh memiliki populasi terbesar, menghampiri lingkar wilayah pantai timur dan pantai Barat. Pengguna Bahasa Aceh mencapai 75 persen dari seluruh penduduk. Di kabupaten Aceh Selatan saja, hampir 50 persen yang memakai bahasa Aceh. Beberapa wilayah memakai bahasa Aneuk Jamee (anak tamu) dan Kluet, yang berdialek dan bersisi fonetik seperti Bahasa Minang. Maka tak heran muncul perasaan masyarakat Kluet dan Aneuk Jamee bahwa mereka bukanlah “asli” Aceh. walaupun dengan teori roti (theory of bread), arus migrasi manusia hingga era Neo-litikum berasal dari utara ke selatan, bukan sebaliknya.

Etnik kedua terbesar adalah Gayo. Meskipun dianggap etnik kedua terbesar, populasinya tak sampai 10 persen total penduduk Aceh. Secara langue (sistem kebahasaan) Bahasa Gayo mendekati dialek Pakpak dan Karo, Sumatera Utara. Lokasinya di punggung Bukit Barisan menyebabkan ia memiliki karakter dan kebiasaan yang mirip dengan suku Karo dan Pakpak, di mana adat lebih penting dibandingkan agama.

Walau pun berbeda dan memiliki keragaman bahasa, adat, dan pola mata pencarian (livelihood) kedelapan etnik ini relatif memiliki sejarah yang sama, termasuk imaginaire yang solid terhadap Aceh. Mereka tidak menyatakan dirinya sebagai Gayo atau Alas, tetapi orang Aceh (De Atjehers). Demikian yang tercatat di buku Gayo dan Adat Istiadatnya karangan Snouck C. Hurgronje seratus tahun silam.

Catatan Snouck menjadi tabalan referensi etnografis yang cukup otentik, bahwa “orang Gayo dan Alas akan marah jika tidak dinyatakan sebagai Aceh, setelah pengorbanan yang mereka tunjukkan dalam perang melawan kolonial Belanda”. Dalam catatan Snouck juga ditunjukkan bukti bahwa pelarian para penguasa Aceh pasca-penaklukan Dalam (istana kerajaan) di Kutaraja (Banda Aceh) adalah di Takengon dan Gayo Luos (Gayo Lues sekarang). Para ulubalang dan pewaris kerajaan selamat karena hadangan para pendekar Gayo dan Alas.

Politisasi Isu Pemekaran
Jika kemudian timbul perasaan berbeda saat ini yang diekspresikan melalui pemekaran ALA dan ABAS, darimana tali arkeologisnya bertaut?

Satu-satunya penjelas adalah daerah Aceh pedalaman dan Barat-Selatan tidak mengalami prahara yang sama hebat, sebagaimana dirasakan oleh masyarakat Aceh pesisir di masa operasi militer. Antropologi perang yang membalur Aceh sejak DI/TII (1953-1962), Gerakan Aceh Merdeka (1976-1979), Operasi Jaring Merah (1989-1992), operasi militer terbatas (1999-2002), dan operasi darurat militer (2003-2005), tidak memberikan bekas duka yang mendalam bagi daerah tersebut, dibandingkan daerah Aceh pesisir. Perasaan menderita yang tidak sama memengaruhi imajinasi kesatuan di masa sekarang.

Seperti dikatakan oleh Benedict Anderson, cita-cita masyarakat di era modern tidak selalu sejalan dengan alur historisisme masyarakat di masa lampau. Fenomena pembentukan negara-bangsa menunjukkan bahwa kesadaran atas “kami sebagai bangsa” adalah ekspresi baru dan historis dalam konteks kekinian yang tidak terpaut dengan having suffered and pleasured together. Ia kebal dari memori masa lalu.

Jika dianalogikan dengan pembentukan Provinsi ALA dan ABAS, maka gagasannya tak lain kontekstualisasi politik oligarkhis dan kepentingan kekuasaan. Pembentukan provinsi baru ini mengambil “sejarah masa kini” sebagai bahan baku gerakan sosial pemekaran. Dalam konteks ini, yang terjadi adalah pembutaaan diri atas keterikatan daerah ALA dan ABAS dengan seluruh etnik masyarakat Aceh di dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Termasuk bahwa pembentukan Provinsi ALA dan ABAS sebagai wujud penyembunyian semangat perdamaian yang dilakukan bersama-sama oleh seluruh masyarakat Aceh.

Telikung semangat pemekaran tidak berasal dari langue hukum, bahwa pemekaran sebenarnya bertentangan dengan MoU Helsinki dan UU No. 11/2006, tetapi dari parole kepentingan elite-elite yang kalah dalam tarung demokrasi dan adanya motif eksploitasi hutan Leuseur. Contradictio in terminis!

Jika representasi kultural dan kohesivitas sosial lebih penting dalam menjaga Aceh damai, maka politisasi Aceh melalui politik pemekaran harus diabaikan.

Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh.
Tulisan ini telah dimuat di Jurnal Nasional, 26 Maret 2008

About these ads

14 Komentar

  1. khazanaharham said,

    Nah, baru ini nih analisis antropologinya kental seperti expresso!
    Ngomong2, udah tidak jadi pejabat di Malikussaleh ya? Makanya, ikutlah jamaah, jangan sendirian; jangan melawan arus. Akibatnya jabatan hilang, uang melayang, karir tersendat dst.

  2. TKF said,

    Halo Bung, kalau ente terbiasa dengan logika ikut arus, itu mungkin andalah, karena tidak boleh disamakan…setiap orang memiliki pembelajaran yang berbeda atas waktu, yang akhirnya terekspresikan dalam diri ketika melihat kekuasaan…
    tapi kalau saya, tidak, dan tak ada yang perlu disedihkan…itu masalah kecil, bahkan mungkin juga tidak memberikan masalah apa-apa bagi saya…
    bahkan sejak tidak menjabat ketua jurusan lagi, saya punya kemerdekaan atas waktu, dan punya kesempatan membaca dan menulis lebih banyak…mengajar lebih lempang, membimbing mahasiswa lebih intens, dan berperjalanan lebih banyak, tanpa harus ada kewajiban ngendon di kampus, dan menunggu nyamuk dan lalat datang.

    kalau tidak bagaimana saya bisa menulis 8 tulisan di koran nasional di bulan maret ini, dan anda menikmatinya…

    kesana cara melihat masalahnya,
    hidup harus lebih maju, jangan cengeng! banyak jalan menuju lampeneurut

  3. khazanaharham said,

    Eh, udah dapat rumah belum? Masih di lampeuneurut ya? Hak itu harus diambil; diperjuangkan. Jangan takut meminta langsung. Tidak perlu harus bersembunyi di balik ketiadaan rumah orang lain. Mengapa tidak katakan saja: “BRR mestinya segera memenuhi tugasnya membangun rumah. Saya sendiri belum dapat rumah”. Gitu aja. Itu artinya penulis yang jujur. Eh, nama saya dimasukkan ya…he..he….belum ada bantuan rumah juga nih :-p

  4. aswin hamidi said,

    tgk kemal. ……….
    Kenapa anda lupa menyebutkan bahwa yang ngotot dengan pemekaran adalah mereka-mereka yang selama ini berstatus numpang tinggal di bumi aceh dan sebetulnya alasan mereka ngemis untuk dimekarkan ini bukanlah masalah ketertinggalan akan tetapi lebih kepada mereka-mereka itu khawatir bila hukum syariat islam berlaku di derah itu,
    Tgk kemal,………
    Kalo anda muat tuisan opini sekali lagi tolong itu ditulis ya…. ?
    Dan juga sebutkan aktor utama pemekaran Ala-Abas beserta motifnya apa ?
    Oiy, anda tau enggak seberapa banyak uang yang sudah mereka dapatkan dari proyek ini ?

  5. aswin said,

    tgk kemal…..
    Selamat anda telah berpartisipasi dalm perang urat syaraf ini,
    Dan semoga berkat tulisan yang anda tulis saudara kita yang di Ala-Abas akan sadar kembali dari mimpi yang ngaur ini,

  6. harimau rimba said,

    auuuuungggggg………
    Wahai manusia tahukah anda bahwa diantara mahluk-mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di ciptakan adalah manusia, tetapi kenapa kalian manusia bersikap seperti binatang kususnya harimau gitu lho,….
    Anda tahukan bagaimana cara hidup binatang yang satu ini ?
    Iy,. Anda betul harimau hidupnya berkelompok-kelompok dan setiap rimba pasti ada penguasanya masing-masing, mereka sering memperebutkan daerah kekuasaan dengan cara mike tyson.

  7. Dycz said,

    Yth,
    Bpk .Teuku Kemal Fasya

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Dalam tulisan anda yang bertajuk “ALA-ABAS dan Distorsi Kekuasaan” saya berasumsi bahwa anda mencoba menjelaskan artikel anda lebih condong mengenai sejarah dan beberapa “kemungkinan” alasan yang brehubungan dengan terbentuknya ALA-ABAS.
    Tulisan anda mengacu kepada perdamaian, persatuan,dan mengutamakan kesejahtraan bagi seluruh bangsa secara umum dan untuk aceh khususnya.
    Saya senang membaca artikel anda pak, tapi yang saya ingin sampaikan hanyalah sedikit masukan untuk kutipan artikel anda yang bertulsikan “Etnik kedua terbesar adalah Gayo. Meskipun dianggap etnik kedua terbesar, populasinya tak sampai 10 persen total penduduk Aceh. Secara langue (sistem kebahasaan) Bahasa Gayo mendekati dialek Pakpak dan Karo, Sumatera Utara. Lokasinya di punggung Bukit Barisan menyebabkan ia memiliki karakter dan kebiasaan yang mirip dengan suku Karo dan Pakpak, di mana adat lebih penting dibandingkan agama.”, saya ingin menambahkan pada kalimat “di mana adat lebih penting dibandingkan agama” apakah kalimat tersebut sebuah pernyataan(statement) atau hanya Opini saja?.
    Bagi saya selaku pembaca, artikel yang berorientasikan Opini untuk keseluruhan tulisannya, terkecuali kutipan dan data otentik sebaiknya ditulis dalam cakupan ide atau opini. Tetapi paragraf diatas memberikan kesan “Ambigu” bagi saya,
    apakah orang gayo lebih mementingkan ber-didong daripada Shalat?.

    Terimakasih,

    Andhika Perdana
    Aachen, Germany.

  8. Teuku Kemal Fasya said,

    Andika, Aachen, Germany, sebuah tempat yang indah, semoga saya juga akan ke sana…

    Penjelasan tentang adat lebih kuat daripada agama adalah sebuah pernyataan antropologis yang merujuk adanya kesamaan tipologis etnis antara Gayo dan Karo. Kalau Anda kontraskan apakah didong lebih penting dibandingkan shalat kalau diartikan secara leksikal jelas akan keliru dan memancing perseteruan di dalam alam maya ini. Tapi yang ingin saya jelaskan, kesadaran adat/kebudayaan mereka lebih besar dan lebih luas dibandingkan dengan kesadaran ritual-formal, seperti suku Aceh pesisir (terutama timur). Dan adat bukan hanya didong, didong hanya satu ekspresi kesenian, adat mencakup kepada peribahasa, local wisdom, perilaku2 kebudayaan yang banyak dijumpai dalam ritus perkawinan, dsb. Dan untuk alasan itu saya katakan ya.

    Bagi orang Gayo, membuang adat akan dianggap lebih tidak memiliki kesantunan, dibandingkan perbedaan agama. Mereka tidak akan membenci jika ada Gayo yang non-muslim, berbeda dengan Aceh pesisir yang akan apatis dan cenderung membenci jika ada orang Aceh yang non-muslim. Jika ada etnis Aceh (pesisir) yang non muslim, mereka akan mengatakan itu bukan Aceh, atau telah keluar dari identitas Aceh.

  9. aritanoga said,

    saya kurang sepakat dengan pendapat anda “Bagi orang Gayo, membuang adat akan dianggap lebih tidak memiliki kesantunan, dibandingkan perbedaan agama. Mereka tidak akan membenci jika ada Gayo yang non-muslim, berbeda dengan Aceh pesisir yang akan apatis dan cenderung membenci jika ada orang Aceh yang non-muslim. Jika ada etnis Aceh (pesisir) yang non muslim, mereka akan mengatakan itu bukan Aceh, atau telah keluar dari identitas Aceh.”

    sepertinya anda merasa lebih tau tentang gayo daripada orang gayo itu sendiri.
    anda tau dan mengerti apa arti dari ” murib I kandung adet benasa i kandung bumi”.

    saran saya : jika anda tidak setuju dengan pemekaran Ala, tidak perlu membuat opini beginian. anda mau menunjukkan kalo Aceh itu lebih islami dan fanatik dengan islam dari suku2 lain yang ada di aceh?

  10. waliyyan said,

    saya sangat suka dengan kata-kata dari artikel ini, saya sangat bangga dengan situs ini, saya harap artikel ini bisa lebih bagus lagi
    oke.. . . . . . . . .

  11. front pembela gayo said,

    ALA dan ABAS itu di pertahankan bukan karena kenangan indah masa lalu pak, itu semua agar pemerintahan lokal dan partai lokal itu tidak menjadi sempit…

    saya mengkhayal jika aceh merdeka suku pertama yg dihabisi adalah gayo…

    pak sekali lagi pak kebudayaan gayo pagar ajaran islam… jadi bagi org gayo islam adalah ruhnya badan

    jadi jgn terlalu bangga dgn keacehan anda karena itu menipu diri anda tentang kenyataan bahwa aceh itu bkn apa2 tanpa GAYO

  12. Yusradi Usman al-Gayoni said,

    Saya melihat, pernyataan Anda terlalu subjektif, terutama di poin, “Lokasinya di punggung Bukit Barisan menyebabkan ia memiliki karakter dan kebiasaan yang mirip dengan suku Karo dan Pakpak, di mana adat lebih penting dibandingkan agama.” bukan karena di punggung gunung, terus karakter&kebiasaannya sama “mana adat lebih penting dibandingkan agama”. sederhana sekali logika berpikir Anda. kaji lagi lebih dalam, soal sejarah, karakter, dan yang lain-lain soal ketiga entik tadi, dengan membaca referensi yang banyak, amatan, dan penelitian lapangan. lebih-lebih, kapasitas Anda sebagai “antropolog,” jangan sebatas mengutip pendapat Snouck. baru Anda bisa menyimpulkan, siapa&bagaimana orang Gayo.

    “Bagi orang Gayo, membuang adat akan dianggap lebih tidak memiliki kesantunan, dibandingkan perbedaan agama. Mereka tidak akan membenci jika ada Gayo yang non-muslim.” yang saya lihat, dan amati malah kebalikannya. berbeda sekali dengan yang Anda sampaikan. saat ada orang Gayo yang murtad, orang tadi dianggap kafir, bukan lagi menjadi bagian dari anggota keluarga. anggota keluarga yang bersangkutan malu, begitu juga dengan masyarakat tempat orang tadi tinggal. begitu juga, orang Gayo secara keseluruhan, yang punya budaya malu yang tinggi. pendapat Anda sekali lagi sama sekali tidak mendasar, subjektif, tendensius, dan provokatif. saya tidak tahu, dari mana sumber kajian Anda, sampai Anda berpendapat demikian. saran saya, belajar lagi lebih banyak soal orang Gayo, dan tanoh Gayo, terutama soal sejarahnya, proses Islamisasi di Aceh, pembentukan kesultanan di Aceh melalui Merah Johan (orang Gayo) yang kemudian terlibat langsung dalam proses Islamisasi di Aceh, masa konflik (salah satunya peran, sifat, dan karakter Tengku Ilyas Leube), sampai kondisi kekinian yang ada di Gayo, dan Aceh, sebelum Anda berkata&menulis. Anda jangan pernah menulis, dan berkata, soal yang Anda sendiri tidak tahu. Itu mengada-ngada namanya. terlebih, dengan sebatas mengandalkan logika seperti tadi, dan kutipan (itu juga terbatas). lihat&kaji terlebih dahulu, tidak mengedapkan pendapat pribadi, objektif dalam melihat realitas sejarah, adat, &budaya-budaya yang ada di Aceh, khususnya Gayo, sehingga sesuai dengan gelar yang Anda sandang “antropolog”

  13. aceh, ala, abas peace said,

    saya sangat setuju kalau pemebentukan ala abas, ini bukan masalah politik tapi ini dalam perluasan zona perekonomian, walaupun kita nanti sudah berpisah namun persahabatan terus kita jaga, ada sebagaianb kalanagn tidak setuju ia belum mememahami ilmu ekonomi ia ahanay pahama dari segi politik, bau politik di indonesia, artinya dengan terbentuknya provensi ala- abas, tentu welfare/ kesejahteraan masyarakat semakin terjamin. saya yakain. dengan pembentukan ini mempermudah komunikasi antara urban dan non urban area, sementara kita ketahui aceh gayo lues, khususnya ala – abas, itu semua jauh dari kota pemerintah jadi alangkah bagusnya jika ala- abas di lanjutkan.thanks.

    note: lihat segi ekonominya jangan di lihat segi politiknya.

    • T Kemal said,

      Dalam konteks sekarang memang akhirnya sebuah pilihan yang tak dapat ditolak, ketika pemerintah Aceh masih abai atas kepentingan masyarakat barat selatan. Ya itu adalah pilihan etis yang tidak bisa dikelompokkan hanya pada masalah politik. Untuk saat ini saya setuju atas nama hak sosial-politik masyarakat. TKF

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: